
Kisah Ketabahan Nabi Ayyub AS dan Doa yang Menembus Langit
sajada.id/–Dalam sejarah para nabi, tidak banyak yang mengalami ujian sehebat Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Ia adalah simbol ketabahan, keteguhan iman, dan pengabdian yang tulus kepada Allah Azza wa Jalla. Nama beliau diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai teladan sempurna dalam bersabar menghadapi cobaan hidup.
Kehidupan yang Diberkahi: Harta, Keturunan, dan Iman
Nabi Ayyub hidup di wilayah Hauran, Syam. Ia adalah keturunan Nabi Ishaq bin Ibrahim. Sebelum ujian menimpanya, beliau adalah seorang hartawan besar. Ternaknya berjumlah ribuan: unta, sapi, kambing, keledai. Ladangnya luas dan subur. Ia juga dianugerahi banyak anak—disebutkan dalam sebagian riwayat ada 12 hingga 14 anak laki-laki dan perempuan—semua sehat, berbakti, dan membanggakan.
Namun yang paling agung dari diri Nabi Ayyub adalah hatinya yang bersih. Dalam kondisi berkecukupan, ia tidak lupa pada Allah. Ia rajin beribadah, menyantuni fakir miskin, dan menolong siapa saja yang membutuhkan. Karena itulah Allah memuliakannya sebagai nabi.
Ujian Beruntun: Hancurnya Segala Nikmat Dunia
Allah hendak menguji kesetiaan hamba-Nya yang saleh ini. Maka satu per satu kenikmatan itu dicabut.
Pertama, harta kekayaannya lenyap. Ladang-ladangnya terbakar habis. Ternak-ternaknya mati terserang wabah dan bencana. Kebun-kebun porak-poranda diterpa angin dan hujan deras. Dalam sekejap, sang hartawan menjadi orang yang tak punya apa-apa.
Kedua, anak-anaknya wafat. Suatu hari rumah tempat berkumpul anak-anaknya ambruk karena angin topan. Mereka semua mati tertimpa reruntuhan. Tak tersisa satu pun. Dunia seakan runtuh bagi seorang ayah. Namun, Ayyub hanya bersujud sambil berkata:
"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji‘uun."
Ketiga, beliau diuji dengan penyakit kulit yang berat. Penyakit itu menular dan menjijikkan. Kulitnya mengelupas, dagingnya membusuk, dan bau tubuhnya menyengat. Orang-orang mengusirnya dari perkampungan. Ia pun tinggal di luar kota, di gubuk tua yang reyot. Tak ada yang mau mendekat—kecuali istrinya.
Ketika Istri pun Tak Kuat Lagi
Istrinya adalah satu-satunya orang yang tetap setia mendampingi. Ia mengurus Ayyub dengan penuh kasih sayang. Ia bekerja menjadi pelayan agar bisa membeli makanan dan obat untuk suaminya. Namun, ujian yang panjang dan rasa lapar yang menyiksa mulai membuatnya lemah.
Dalam satu peristiwa, karena tak tahan lagi, sang istri berkata pada Ayyub:
“Wahai Ayyub, engkau adalah nabi Allah. Mengapa engkau tidak berdoa kepada-Nya agar engkau disembuhkan?”
Mendengar itu, Ayyub menjawab dengan hati yang sangat berserah diri:
“Aku telah diberi nikmat kesehatan dan kekayaan oleh Allah selama 70 tahun. Maka aku merasa malu jika baru 7 tahun diuji, lalu aku mengeluh kepada-Nya.”
Namun ujian terus berlanjut. Hingga suatu hari, istrinya terpaksa pergi mencari nafkah, tetapi masyarakat tidak lagi menerimanya karena khawatir ia membawa penyakit suaminya. Akhirnya, sang istri meninggalkan Ayyub, tidak karena benci, tetapi karena ketidakberdayaan.
Doa yang Penuh Kesantunan dan Adab
Dalam sepi, sakit, dan keterasingan, Nabi Ayyub berdoa. Doanya sangat singkat, namun penuh keikhlasan dan keyakinan:
رَبِّ إِنِّي مَسَّنِيَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ
“Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku telah ditimpa penderitaan, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”
(QS. Al-Anbiya’: 83)
Ia tidak merinci betapa perihnya luka atau pedihnya kehilangan. Ia hanya mengakui kelemahannya, dan memuji kasih sayang Allah. Sebagian ahli tafsir menyebut doa ini sebagai doa paling penuh adab dalam Al-Qur’an.
Kesembuhan dan Kemenangan dari Allah
Maka Allah mengabulkan doanya. Allah berfirman:
> فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ فَكَشَفْنَا مَا بِهِۦ مِن ضُرٍّۢ وَءَاتَيْنَـٰهُ أَهْلَهُۥ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةًۭ مِّنْ عِندِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَـٰبِدِينَ
“Lalu Kami kabulkan doanya, dan Kami lenyapkan penderitaan yang menimpanya. Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipatgandakan jumlah mereka sebagai rahmat dari Kami dan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang beribadah.”
(QS. Al-Anbiya’: 84)
Allah memerintahkan Ayyub:
> ٱرْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَـٰذَا مُغْتَسَلٌۭۢ بَارِدٌۭ وَشَرَابٌۭ
“Hentakkanlah kakimu! Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.”
(QS. Shad: 42)
Dari tanah tempat ia menghentakkan kakinya, muncul mata air. Ia mandi dan minum dari air itu, lalu tubuhnya pun sembuh total. Istrinya pun kembali, dan Allah menghidupkan kembali anak-anaknya atau menggantikan mereka dengan anak-anak lain, dua kali lipat lebih banyak.
Teladan Kesabaran Sepanjang Zaman
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang shalih, lalu yang selevelnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya.”
(HR. Tirmidzi no. 2398)
Dan Allah menegaskan pujian-Nya:
> إِنَّا وَجَدْنَـٰهُ صَابِرًۭا ۚ نِّعْمَ ٱلْعَبْدُ ۖ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌۭ
“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh dia sangat taat (kepada Allah).”
(QS. Shad: 44)
Penutup: Hikmah bagi Orang Beriman
Kisah Nabi Ayyub mengajarkan bahwa kesabaran dan kepasrahan adalah jalan menuju pertolongan Allah. Dalam kondisi terburuk sekalipun, doa tetap menjadi jembatan antara hati yang remuk dengan rahmat Ilahi.
Doa beliau menjadi warisan spiritual bagi siapa pun yang diuji:
رَبِّ إِنِّي مَسَّنِيَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ
Semoga kita diberi kekuatan seperti Nabi Ayyub: teguh dalam ujian, sabar dalam penderitaan, dan selalu bersangka baik kepada Allah.
(Syahruddinsajada.id/)
Referensi:
1. Al-Qur’an: QS. Al-Anbiya’ 83–84, QS. Shad 42, 44
2. Tafsir Ibnu Katsir
3. Qashashul Anbiya’ karya Ibnu Katsir
4. Shahih Tirmidzi no. 2398
5. Tafsir As-Sa‘di
6. Pandangan Hasan Al-Bashri, Sufyan Ats-Tsauri, dan Al-Ghazali


