Alam sudah memberikan isyarat betapa kerusakan yang dilakukan pemerintah, pengusaha, bahkan ulama sudah tidak bisa dijadikan teladan.
SAJADA.ID, JAKARTA— Pengasuh Pondok Pesantren Ummul Quro, Pondok Cabe, Tangerang Selatan (Tangsel), KHR. Syarif Rahmat SQ meminta para Pengurus Besar jam’iyyah Nahdlatul Ulama (PBNU) bersikap dewasa, bijaksana, dan lebih mengedepankan kepentingan umat dibanding ego kelompok. Jika tidak, kata dia, yang akan menjadi korban bukan hanya nama besar para tokoh itu sendiri, tetapi juga jutaan warga nahdliyin dan bahkan keutuhan organisasi Nahdlatul Ulama.
Pesan itu disampaikan Kiai Syarif ketika menjawab pertanyaan moderator dalam podcast Padasuka TV yang diunggah pada Jumat (5/12/2025). Menurutnya, ketika ulama yang seharusnya menjadi teladan justru terlibat pertikaian dan konflik berkepanjangan, maka umat tidak boleh menjadikan mereka sebagai pegangan.
“Kalau ulama bertikai, tinggalkan saja. Nggak usah dijadikan pegangan. bahkan kalau perlu lari dari mereka,” tegasnya.
Untuk memperkuat pesannya, Kiai Syarif mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman:
فَقُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ، قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ، حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
Aku (Hudzaifah) bertanya: “Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mendapati (zaman) itu?” Beliau bersabda: “Engkau wajib bersama jamaah kaum Muslimin dan imam mereka.” Aku bertanya lagi: “Jika mereka tidak memiliki jamaah dan tidak memiliki imam?” Beliau bersabda: “Tinggalkanlah semua kelompok yang ada, meskipun engkau harus menggigit akar pohon, sampai kematian menjemputmu dan engkau dalam keadaan seperti itu.” (HR. Bukhari no. 3606, Muslim no. 1847)
Berkaca dari hadis tersebut, Kiai Syarif menjelaskan, selama para pemimpin, ulama, dan tokoh-tokoh itu masih bisa menjadi teladan, maka boleh diikuti. Namun jika mereka sudah tidak bijaksana, dipenuhi ambisi, dan lebih sibuk bertikai daripada menuntun umat, maka tidak ada kewajiban untuk mengikuti mereka.
“Yang diikuti itu adalah kebaikan dan kebenaran, bukan semata-mata figur atau jabatannya,” ujarnya.
Analogi Nabi Nuh dan Anaknya
Ulama yang dikenal sering berpakaian ala Sunan Kalijaga ini kemudian mencontohkan kisah Nabi Nuh Alaihissalam dan putranya, Kan’an. Secara nasab Kan’an adalah anak Nabi, namun secara iman dan sikap ia membangkang. Bahkan ketika diajak naik ke bahtera untuk menyelamatkan diri dari banjir besar, ia menolak dengan sombong dan merasa bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
“Dia anak Nabi Nuh secara nasab, tapi karena dia tidak mau berubah, menolak kebenaran, akhirnya ditinggalkan. Ini pelajaran besar buat kita. Kalau ada yang membahayakan keselamatan ‘kapal’, ya harus ditinggalkan,” ujar Kiai Syarif.
Ketika ditanya apakah yang harus ditinggalkan itu adalah NU, Kiai Syarif menjawab tegas, bukan organisasinya, melainkan para pemimpin yang terus bertikai dan menimbulkan kegaduhan.
“Ulama atau pemimpinnya yang ditinggalkan. Kita tetap berada di kapal yang sama, yaitu NU. Tapi orang-orang yang membuat konflik, yang tidak selesai-selesai itu, tinggalkan. Kalau keberadaan mereka mengancam keselamatan penumpang dan keamanan kapal, ya singkirkan saja. Jangan ikut kedua kelompok yang bertikai itu. Selamatkan kapal,” tegasnya.
Ulama Seharusnya Penjaga Umat dan Alam
Lebih jauh, Kiai Syarif menjelaskan bahwa Nahdlatul Ulama memiliki makna kebangkitan para orang alim, orang-orang berilmu yang seharusnya membawa ketenangan, kesejukan, dan solusi bagi umat. Ulama adalah pewaris para nabi, yang tugasnya bukan hanya mengajar, tetapi juga menegur kezaliman dan membela yang lemah.
Dalam konteks sekarang, ia menilai alam semesta sedang “berbicara”. Gunung meletus, banjir, longsor, kekeringan, hingga perubahan cuaca ekstrem yang merenggut banyak korban jiwa, menurutnya bukan sekadar gejala alam, melainkan peringatan dari Allah atas keserakahan manusia.
“Ulama itu harus berani menegur umara (pemerintah) dan pengusaha yang merusak alam. Hentikan kezaliman. Tapi jangan sampai ulamanya malah ikut-ikutan bersama mereka menikmati kezaliman itu. Kalau sudah begitu, ini tanda yang sangat berbahaya,” katanya.
Tanda Zaman dan Kerusakan Kepemimpinan
Di akhir tayangan, Kiai Syarif kembali mengutip hadis Nabi SAW tentang salah satu gambaran kondisi umat di akhir zaman:
سيأتى زمانٌ على أمتي سلاطينهم كالأسد ووزراؤهم كالذئب وقضاتهم كالكلب وسائر الناس كالأغنام، فكيف يعيش الغنم بين الأسد والذئب والكلب؟
Akan datang suatu masa pada umatku, penguasanya seperti singa, para menterinya seperti serigala, para hakimnya (dalam riwayat lain, para ulamanya) seperti anjing, dan manusia kebanyakan seperti kambing. Lalu bagaimana mungkin kambing bisa hidup di tengah-tengah singa, serigala, dan anjing?
Menurutnya, gambaran ini terasa semakin nyata hari ini. Ketika para pemimpin berlaku seperti pemangsa, sementara rakyat hanya menjadi korban, maka kewaspadaan adalah satu-satunya cara bertahan.
“Kalau ulamanya juga sudah seperti itu, maka waspadalah. Tinggalkan dan menjauhlah. Selamatkan iman,” pesannya.
Dalam hadis lain, bila umat melihat para ulama bertikai atau berkonflik, maka manusia haus menjauh. Tetapi bila ulama bisa dijadikan pedoman dan panutan, maka jangan lari dari ulama sejati.
سَيَأْتِي زَمَانٌ عَلَى النَّاسِ يَفِرُّونَ مِنَ الْعُلَمَاءِ كَمَا يَفِرُّ الْغَنَمُ مِنَ الذِّئْبِ، ابْتَلَاهُمُ اللَّهُ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: الأَوَّلُ يُرْفَعُ الْبَرَكَةُ مِنْ أَمْوَالِهِمْ، وَالثَّانِيَةُ يُسَلَّطُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا جَائِرًا، وَالثَّالِثَةُ يَخْرُجُونَ مِنَ الدُّنْيَا بِلَا إِيمَانٍ
Akan datang suatu masa pada manusia, mereka lari dari para ulama sebagaimana kambing lari dari serigala. Allah menguji mereka dengan tiga hal: pertama, dicabut keberkahan dari harta mereka; kedua, Allah menguasakan kepada mereka penguasa yang zalim; ketiga, mereka keluar dari dunia tanpa iman.
Dalam hadis ini, yang juga harus menjadi renungan bersama: jangan sampai umat menjauhi ulama yang lurus, namun justru mengikuti ulama yang dipenuhi ambisi duniawi.
“Jalan selamat itu bukan membela kelompok, tapi membela kebenaran. Bukan mengikuti tokoh, tapi mengikuti nilai. Selamatkan kapal NU dengan meninggalkan mereka yang membuat kapal ini hampir karam,” pungkasnya.
(Syahruddin/sajada.id/)


