Oleh: Redaksi Sajada.id
Ada ulama yang dikenang karena kedalaman ilmunya. Ada pula yang dikenang karena keteladanan akhlaknya. Namun, ada sosok yang memiliki keduanya, sekaligus dianugerahi kemampuan langka untuk menggetarkan kesadaran umat melalui kata-kata. Beliau adalah Prof. KH Syukron Ma’mun, ulama kharismatik yang namanya lekat dengan julukan Singa Podium.
Ahad, 18 Oktober 2026, menjadi hari yang membawa duka bagi dunia dakwah dan pendidikan Islam Indonesia. KH Syukron Ma’mun berpulang menghadap Allah Swt. dalam usia 84 tahun. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang kiai sepuh, melainkan juga kehilangan seorang guru, pendidik, mubalig, dan penjaga tradisi dakwah yang selama puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk umat.
Namun, sebagaimana suara seorang guru yang terus bergema dalam ingatan murid-muridnya, pengaruh KH Syukron Ma’mun tidak serta-merta berhenti ketika hayat meninggalkan badan. Ia hidup dalam ingatan jamaah, dalam disiplin para santri, dalam tradisi keilmuan pesantren, dan dalam keberanian menyampaikan kebenaran, warisan ilmu yang abadi selamanya.
Sang Singa Podium
Menyebut KH Syukron Ma’mun berarti mengingat sosok yang berdiri tegak di atas podium, berbicara dengan suara lantang, serta menyampaikan pesan keagamaan dengan ketegasan yang khas.
Julukan Singa Podium bukanlah gelar yang muncul tanpa alasan. Sejak muda, beliau telah menekuni dunia dakwah. Kiprahnya dimulai ketika masih menempuh pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, kemudian berkembang hingga menjangkau berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah negara di Asia Tenggara. Kemampuan orasinya menjadikan beliau dikenal luas sebagai salah seorang mubalig yang memiliki karakter kuat di hadapan jamaah.
Ada ciri khas yang sulit dilupakan dari penampilan beliau ketika berada di atas panggung. Suaranya khas menggelegar, tetapi bukan semata-mata karena volume yang keras. Ada tekanan, penekanan, dan pengaturan kata yang membuat pesan-pesannya terasa menghunjam. Intonasinya cenderung datar dan bergema, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Beliau tidak harus selalu berteriak untuk membuat jamaah memperhatikan.
Kalimat-kalimatnya mengalir dengan tegas. Uraiannya lugas. Argumentasinya disampaikan dengan keyakinan. Sesekali, tekanan suaranya menguat ketika sampai pada persoalan yang dianggap mendasar bagi kehidupan umat. Pada saat lain, beliau dapat menyampaikan uraian panjang dengan nada yang relatif tenang, tetapi tetap membuat pendengar mengikuti setiap pokok pembicaraan.
Di tangannya, podium bukan sekadar tempat berdiri seorang penceramah. Podium menjadi ruang untuk mengajarkan agama, membangun kesadaran, mengingatkan penguasa, dan menggugah tanggung jawab masyarakat.
Beliau tampil bukan untuk sekadar menghibur jamaah dengan retorika. Ada pesan yang hendak ditanamkan, ada pemahaman yang ingin diluruskan, dan ada kesadaran yang ingin dibangkitkan. Itulah yang membedakan orasi seorang mubalig dari sekadar kepandaian berbicara.
Tak Hanya Menyentuh Hati, tetapi Juga Menggerakkan Pikiran
Dakwah KH Syukron Ma’mun memiliki karakter yang kuat: tegas, lugas, argumentatif, dan berorientasi pada persoalan nyata kehidupan umat.
Dalam ceramah-ceramahnya, agama tidak berhenti sebagai kumpulan nasihat tentang ibadah individual. Islam hadir sebagai pedoman hidup yang berkaitan dengan akhlak, tanggung jawab sosial, keadilan, pendidikan, dan kehidupan bermasyarakat.
Beliau dikenal memiliki keberanian menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang menurut pandangannya bertentangan dengan ajaran Islam atau berpotensi merugikan masyarakat kecil.
Sikap semacam itu menempatkan dakwah bukan hanya sebagai aktivitas ritual, melainkan juga sebagai tanggung jawab moral.
Bagi beliau, seorang ulama tidak semestinya kehilangan daya kritis hanya karena berhadapan dengan kekuasaan. Kewibawaan seorang kiai justru terletak pada kemampuannya menjaga prinsip, menyampaikan nasihat, dan mengingatkan siapa pun agar tidak menyimpang dari nilai-nilai keadilan.
Tentu, kritik dalam dakwah bukanlah tujuan pada dirinya sendiri. Kritik harus memiliki landasan, argumentasi, dan orientasi perbaikan. Ketegasan seorang ulama semestinya diarahkan untuk meluruskan keadaan, bukan sekadar mempertajam pertentangan.
Dalam sosok KH Syukron Ma’mun, keberanian berbicara di hadapan publik menjadi bagian penting dari identitas dakwahnya.
Beliau mengingatkan bahwa agama tidak seharusnya dijauhkan dari persoalan kehidupan masyarakat. Ketika rakyat menghadapi kesulitan, ketika keadilan dipertanyakan, atau ketika kebijakan publik perlu dikoreksi berdasarkan nilai-nilai moral, suara ulama memiliki tempat yang penting.
Di tengah masyarakat yang kerap menyaksikan orang berlomba mendekati kekuasaan, keberadaan ulama yang berani mengingatkan kekuasaan merupakan bagian penting dari tradisi moral Islam.
Karena itu, daya tarik KH Syukron Ma’mun tidak hanya terletak pada suara yang keras atau gaya bicara yang meyakinkan. Yang membuat sosoknya diperhitungkan adalah keberanian memadukan pengetahuan agama dengan pandangan terhadap realitas sosial.
Ketegasan yang Berakar pada Tradisi Keilmuan Pesantren
KH Syukron Ma’mun lahir di Sampang, Madura, pada 21 Desember 1941. Beliau tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan tradisi keilmuan Islam. Ayah dan kakeknya merupakan kiai, sementara ibunya, Hj. Masturoh, mengajarkan Al-Qur’an dan kitab-kitab dasar keislaman, termasuk Safinatun Najah. Lingkungan keluarga tersebut menjadi salah satu fondasi penting bagi perjalanan intelektual dan spiritualnya.
Pendidikan beliau ditempuh melalui perpaduan pendidikan umum dan agama. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan melanjutkan ke tingkat SMP, beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, kemudian meneruskan pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo.
Di Gontor, beliau menjalani pendidikan selama kurang lebih enam tahun dan menyelesaikan pendidikan di Kulliyatul Mu’allimin. Sekitar 1966, beliau melanjutkan pendidikan di Institut Pendidikan Darussalam dan memperoleh gelar B.A.
Perjalanan keilmuannya tidak berhenti pada pendidikan formal. Di Jakarta, beliau juga memperdalam ilmu agama melalui bimbingan sejumlah ulama terkemuka, di antaranya Habib Ali bin Husein Bungur dan Habib Abdurrahman Al-Habsyi dari Kwitang.
Latar belakang inilah yang penting untuk memahami karakter dakwahnya. Ketegasan KH Syukron Ma’mun tidak dapat dilepaskan dari tradisi pesantren yang menempatkan ilmu, disiplin, penghormatan kepada guru, dan tanggung jawab keagamaan sebagai bagian yang saling berkaitan.
Seorang kiai tidak cukup hanya mampu berbicara. Ia harus memiliki sesuatu untuk disampaikan. Ia tidak cukup hanya mampu memengaruhi jamaah. Ia juga harus bertanggung jawab atas nilai-nilai yang diajarkannya.
Dalam pengertian tersebut, podium KH Syukron Ma’mun merupakan perpanjangan dari ruang belajar pesantren. Di pesantren, ilmu ditanamkan melalui pengajaran dan keteladanan. Di atas podium, ilmu disampaikan kepada masyarakat dengan bahasa yang lebih luas dan daya jangkau yang lebih besar.
Daarul Rahman: Membangun Manusia, Bukan Sekadar Mendirikan Lembaga
Di balik sosok orator yang dikenal luas, terdapat sisi lain yang tidak kalah penting: KH Syukron Ma’mun adalah seorang pendidik yang menaruh perhatian besar pada pembentukan generasi muda Islam.
Beliau mendirikan Pondok Pesantren Daarul Rahman di Jakarta pada 1975 dengan dukungan sejumlah sahabat dan rekan seperjuangan. Pesantren tersebut kemudian berkembang dengan jaringan pendidikan yang mencakup Jakarta, Bogor, dan Depok.
Pendirian Daarul Rahman memperlihatkan bahwa perhatian beliau tidak berhenti pada dakwah di hadapan jamaah. Beliau juga memikirkan bagaimana nilai-nilai Islam dapat diwariskan secara sistematis kepada generasi berikutnya.
Membangun pesantren berarti menyiapkan ruang tempat anak-anak muda belajar membaca kitab, memahami agama, membentuk akhlak, dan membiasakan diri hidup dalam disiplin.
Pesantren juga menjadi tempat menempa karakter. Di dalamnya, seorang santri belajar bahwa ilmu tidak diperoleh secara instan. Ada waktu yang harus dihabiskan untuk mengaji, ada aturan yang harus ditaati, ada adab yang harus dijaga, dan ada tanggung jawab yang perlahan-lahan harus dipikul.
Karakter pendidikan seperti inilah yang membuat pesantren memiliki peran strategis dalam kehidupan umat.
KH Syukron Ma’mun tidak hanya dikenal melalui apa yang beliau ucapkan kepada ribuan jamaah, tetapi juga melalui apa yang beliau tanamkan kepada para santri dalam keseharian mereka.
Di atas podium, beliau berbicara kepada masyarakat luas. Di pesantren, beliau membangun manusia yang diharapkan kelak mampu berbicara, mengajar, memimpin, dan mengabdi kepada masyarakat.
Jika podium menjadi tempat menyampaikan gagasan, pesantren menjadi tempat menumbuhkan generasi yang akan meneruskan gagasan tersebut.
Mendidik Santri, Menyiapkan Penerus Perjuangan
Salah satu ukuran penting keberhasilan seorang guru bukan hanya banyaknya orang yang pernah mendengar ceramahnya, melainkan juga sejauh mana nilai-nilai yang diajarkannya terus hidup setelah ia tiada.
Dalam konteks ini, Daarul Rahman menjadi bagian penting dari warisan KH Syukron Ma’mun.
Beliau membangun tradisi pendidikan yang menghubungkan penguasaan ilmu agama, pembentukan karakter, dan kedisiplinan. Pesantren tersebut dirancang untuk menumbuhkan generasi muda yang memiliki keimanan, pengetahuan, dan kepribadian yang kuat.
Di antara sosok yang melanjutkan pengabdian dalam lingkungan keluarga dan pesantren adalah putra-putra beliau, KH Ahmad Zaenal Ridlo dan KH Muhammad Faiz Syukron Ma’mun.
KH Ahmad Zaenal Ridlo dikenal mengemban tanggung jawab dalam pengelolaan pendidikan di lingkungan Daarul Rahman. Sementara itu, KH Muhammad Faiz Syukron Ma’mun, yang dikenal pula sebagai Gus Faiz, meneruskan kiprah dakwah dan pendidikan serta dikenal melalui aktivitasnya di lingkungan Majelis Ulama Indonesia DKI Jakarta. Keduanya menjadi bagian dari kesinambungan pengabdian keluarga dalam bidang pendidikan dan dakwah Islam.
Tentu, warisan pendidikan KH Syukron Ma’mun tidak hanya dapat diukur melalui nama-nama yang dikenal publik.
Jauh lebih luas daripada itu, terdapat para santri dan alumni yang menjalani kehidupan di tengah masyarakat dengan bekal pendidikan pesantren. Ada yang mengabdikan diri sebagai guru, pengasuh pesantren, mubalig, penggerak kegiatan keagamaan, dan pelayan masyarakat.
Tidak semua nama mereka dikenal secara nasional. Sebagian mungkin hanya dikenal di lingkungan tempat mereka mengabdi. Namun, justru di sanalah makna pendidikan pesantren menemukan wujudnya.
Seorang santri yang mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak di kampungnya, seorang guru yang membimbing murid-muridnya dengan sabar, atau seorang alumni yang berusaha menjaga kejujuran dalam pekerjaannya, semuanya dapat menjadi bagian dari mata rantai pengabdian yang ditumbuhkan melalui pendidikan.
Karena itu, keberhasilan seorang kiai tidak selalu tampak dalam popularitas murid-muridnya. Terkadang, keberhasilan tersebut hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: ilmu yang diamalkan, akhlak yang dijaga, dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Di situlah nilai sebuah warisan pendidikan.
Dari Podium ke Kehidupan Nyata
Ada sesuatu yang menarik dari sosok KH Syukron Ma’mun. Beliau dikenal karena suaranya yang lantang, tetapi pengaruh seorang guru sesungguhnya tidak hanya bergantung pada kerasnya suara. Pengaruh itu bertahan apabila kata-katanya meninggalkan bekas dalam pikiran dan perilaku orang-orang yang mendengarnya.
Orasi yang baik dapat menggugah emosi. Ceramah yang mendalam dapat memperluas pemahaman. Namun, pendidikan yang berhasil semestinya melahirkan perubahan yang lebih panjang: manusia yang mampu membedakan kebenaran dan kebatilan, memiliki keberanian moral, serta memahami tanggung jawabnya terhadap sesama.
Dalam konteks itulah, julukan Singa Podium dapat dibaca lebih jauh daripada sekadar gambaran tentang gaya berbicara.
Ia melambangkan keberanian menyampaikan pesan, keteguhan mempertahankan prinsip, dan kemampuan menggunakan kata-kata sebagai sarana perjuangan.
Sementara itu, Daarul Rahman memperlihatkan sisi perjuangan yang lain: kesabaran membangun lembaga, mendidik generasi, dan menyiapkan penerus. Dua sisi tersebut saling melengkapi.
Dakwah di atas podium menjangkau masyarakat dalam satu kesempatan. Pendidikan di pesantren bekerja dari hari ke hari, membentuk kebiasaan dan karakter melalui proses yang panjang.
Keduanya membutuhkan ilmu, kesabaran, dan keyakinan bahwa perubahan tidak selalu terjadi seketika.
Barangkali, di sinilah salah satu pelajaran penting dari perjalanan hidup KH Syukron Ma’mun: perjuangan Islam tidak cukup hanya dengan menyampaikan gagasan yang benar. Gagasan tersebut juga harus ditanamkan, diajarkan, dan diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Ketika Sang Singa Podium Berpulang
Kepergian KH Syukron Ma’mun pada 18 Oktober 2026 mengingatkan kita bahwa setiap manusia memiliki batas usia, termasuk mereka yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk agama dan masyarakat. Namun, kepergiannya tidak serta-merta mengakhiri seluruh pengaruh seseorang.
Seorang ulama meninggalkan warisan yang berbeda dari warisan kebendaan. Ia meninggalkan ilmu yang dapat dipelajari, nasihat yang dapat direnungkan, lembaga yang dapat diteruskan, dan teladan yang dapat dijadikan pegangan.
KH Syukron Ma’mun meninggalkan jejak melalui perjalanan dakwahnya, Pesantren Daarul Rahman, serta generasi yang telah tumbuh dalam lingkungan pendidikan dan pengabdiannya.
Tentu, tidak setiap pandangan seorang tokoh harus diterima tanpa kajian. Tradisi keilmuan yang sehat justru mengajarkan pentingnya memahami, menelaah, dan mengambil pelajaran secara bertanggung jawab.
Namun, keberanian seorang ulama untuk mengingatkan masyarakat, ketekunannya mendidik santri, dan kesediaannya mengabdikan waktu untuk dakwah merupakan nilai-nilai yang patut direnungkan.
Di tengah zaman ketika perhatian masyarakat mudah berpindah dari satu peristiwa ke peristiwa lain, sosok seperti KH Syukron Ma’mun mengingatkan bahwa pengabdian membutuhkan konsistensi. Nama besar tidak lahir hanya dari satu penampilan, tetapi dibangun melalui perjalanan panjang yang penuh tanggung jawab.
Dan seorang guru tidak benar-benar selesai mengajar ketika ia meninggalkan dunia. Pelajarannya terus hidup selama masih ada orang yang mengingat, memahami, dan mengamalkannya.
Suaranya Mungkin Telah Hening, tetapi Pesannya Belum Usai
Kini, Sang Singa Podium telah berpulang.
Podium-podium yang pernah menjadi saksi orasinya akan tetap berdiri. Jamaah yang dahulu mendengarkan ceramahnya akan terus membawa ingatan masing-masing. Di Daarul Rahman, tradisi pendidikan yang dibangunnya menghadapi tugas untuk terus dirawat dan dikembangkan.
Kita mungkin tidak lagi mendengar suara beliau yang menggelegar di tengah kerumunan. Kita mungkin tidak lagi menyaksikan gerak dan penekanannya ketika menguraikan persoalan agama di hadapan jamaah.
Namun, warisan seorang ulama tidak semestinya diukur dari apakah suaranya masih terdengar, melainkan dari apakah nilai-nilai yang diperjuangkannya masih hidup.
Bagi para santri, warisan itu dapat berupa kedisiplinan dan kecintaan terhadap ilmu.
Dan bagi para pendakwah, ia dapat berupa keberanian menyampaikan kebenaran dengan landasan pengetahuan dan tanggung jawab.
Bagi masyarakat, ia dapat berupa kesadaran bahwa agama tidak boleh berhenti pada ucapan, tetapi harus hadir dalam akhlak, kepedulian, dan perjuangan menegakkan keadilan.
Sementara bagi para penerusnya, warisan itu merupakan amanah besar: menjaga lembaga pendidikan, merawat tradisi keilmuan, dan meneruskan pengabdian dengan menjawab tantangan zaman.
KH Syukron Ma’mun telah menuntaskan perjalanan hidupnya. Akan tetapi, perjalanan ilmu dan dakwah yang pernah ditempuhnya masih menyisakan pekerjaan bagi generasi sesudahnya.
Sebab, pada akhirnya, seorang ulama tidak hanya dikenang karena apa yang pernah ia katakan, tetapi juga karena manusia seperti apa yang berhasil ia didik dan nilai-nilai apa yang tetap hidup setelah ia tiada.
Selamat jalan, KH Syukron Ma’mun.
Sang Singa Podium telah berpulang, tetapi gema ilmu, keberanian, dan pengabdian yang ditinggalkannya semoga tetap hidup di hati umat. Selamat Jalan, Abah; Kami pasti merindukanmu.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu. Semoga Allah Swt. mengampuni segala khilaf beliau, menerima amal ibadah dan pengabdiannya, melapangkan tempat peristirahatannya, serta menempatkannya di sisi-Nya dalam rahmat dan rida-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.
(Syahruddin El-Fikri/sajada.id)






Komentar