
Jangan Berdebat dengan Keledai
Oleh Syahruddin El Fikri
sajada.id/–Perdebatan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Di mana pun—di pusat pemerintahan, ruang sidang parlemen, media sosial, hingga warung kopi di pinggir jalan—manusia selalu punya bahan untuk dibicarakan. Mulai dari perkara sepele, hingga urusan besar tentang bangsa dan negara.
Siapa pun bisa menjadi pembicara. Dari kalangan pejabat, tokoh masyarakat, hingga rakyat biasa. Namun, dari sekian banyak obrolan dan perdebatan, tak jarang muncul pertengkaran yang sia-sia, bahkan memicu kebencian dan permusuhan. Padahal, awalnya hanya perbedaan pandangan.
Ironisnya, perdebatan itu sering kali tak lagi mencari kebenaran. Ia berubah menjadi ajang pembelaan diri atau kelompok, demi gengsi dan ego. Fakta diabaikan, logika ditekuk, dan kebenaran dikubur dalam-dalam hanya karena tak ingin kalah.
Kisah berikut memberi pelajaran berharga tentang hal itu.
Kisah Keledai dan Rumput Biru
Dikisahkan, suatu hari seekor keledai berjalan sambil bernyanyi riang. Ia tampak begitu percaya diri dengan pendapatnya sendiri.
“Rumput itu warnanya biru!” katanya lantang.
Hewan-hewan lain yang mendengar tentu terkejut. Mereka mencoba meluruskan, “Tidak, rumput itu warnanya hijau.”
Namun, keledai tetap bersikeras. “Tidak! Rumput itu biru!” ujarnya ngotot.
Sampai akhirnya, seekor harimau yang bijak mendekati keledai itu dan mencoba menasihati dengan tenang. “Sahabatku, rumput itu hijau. Semua makhluk tahu itu.”
Tapi keledai tetap bergeming. Ia terus berteriak lantang, “Rumput itu biru!”
Karena sama-sama keras kepala, keduanya sepakat membawa persoalan itu kepada raja hutan, yakni singa.
Setelah mendengarkan keduanya, sang raja singa berkata, “Keledai benar, rumput itu biru. Dan harimau akan dihukum karena bersikeras menentang.”
Keledai pun tersenyum bangga, lalu pergi sambil terus bersenandung, “Rumput itu biru!”
Harimau yang heran akhirnya bertanya kepada sang raja, “Wahai Raja, bukankah engkau tahu bahwa rumput itu hijau? Mengapa engkau membenarkan keledai dan menghukum aku?”
Singa menjawab, “Benar, harimau. Rumput itu hijau. Tapi engkau dihukum bukan karena salah, melainkan karena berdebat dengan seekor keledai.”
“Engkau tahu dia bodoh, tapi engkau masih mau berdebat dengannya. Dan itulah kesalahanmu,” tegas sang raja.
Kisah ini mengandung makna mendalam: jangan membuang waktu untuk berdebat dengan orang yang menolak memahami. Karena pada akhirnya, bukan kebenaran yang mereka cari, tetapi kemenangan ego.
Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata:
"Aku tidak pernah berdebat dengan seseorang kecuali aku berharap kebenaran muncul di antara kami, baik dari lisanku maupun dari lisannya." (Adab al-Ikhtilaf, Ibn Abdil Barr).
Namun, jika lawan bicara hanya ingin menang, bukan mencari kebenaran, maka diam lebih bijak. Rasulullah ﷺ pun bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
"Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia berada di pihak yang benar." (HR. Abu Dawud, no. 4800).
Jadi, bila berhadapan dengan seseorang yang keras kepala dan menolak logika, jangan buang tenaga. Seperti kata pepatah Arab, “Diam terhadap orang bodoh adalah jawaban terbaik.”
Karena sejatinya, tidak semua debat perlu dimenangkan. Kadang, kemenangan sejati justru ada pada kesediaan untuk diam dan menjaga diri dari kebodohan.
Salam bijak: jangan berdebat dengan keledai.
(Syahruddinsajada.id/)


