SAJADA.ID — Dalam khutbahnya di Masjid Nururrahman Depok, Ust. H. Agus Gustaf, M.Ag mengajak jamaah untuk kembali merenungi makna besar peristiwa Isra Mi’raj. Menurutnya, Isra Mi’raj tidak boleh dipahami sekadar sebagai perjalanan luar biasa Rasulullah ﷺ, tetapi sebagai momentum turunnya amanah agung yang menentukan kualitas keimanan umat Islam, yakni shalat.
Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah kepada Rasulullah ﷺ tanpa perantara, dan menjadi “paket kado” paling berharga dari peristiwa Isra Mi’raj. Namun, Al-Qur’an menjelaskan bahwa nilai shalat tidak hanya diukur dari gerakan lahiriah, melainkan dari sikap batin dan konsistensinya. Karena itu, Allah membagi manusia ke dalam beberapa karakter dalam menunaikan shalat.
Shalat yang Khusyuk
Allah Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minūn: 2)
Ust. Agus menjelaskan, Imam Abu Bakar Al-Jazairi dalam Aisarut Tafāsīr menafsirkan shalat khusyuk sebagai shalat yang dilakukan dengan tenang, tidak melirik ke kanan dan kiri, menghadirkan hati sepenuhnya, serta kadang disertai air mata karena merasa sedang berhadapan langsung dengan Rabb mereka. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa orang-orang yang khusyuk adalah mereka yang hatinya dipenuhi rasa takut kepada Allah sekaligus ketenangan. Hasan Al-Bashri mengatakan, kekhusyukan tercermin dari pandangan yang tertunduk dan sikap diri yang penuh kerendahan.
Shalat yang Dijaga
Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ
“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al-Mu’minūn: 9)
Dalam Aisarut Tafāsīr, Abu Bakar Al-Jazairi menjelaskan bahwa shalat yang terjaga adalah shalat yang dikerjakan tepat pada waktunya, tidak diawalkan dan tidak ditunda tanpa alasan yang dibenarkan, serta memperhatikan syarat-syarat sah shalat seperti suci dari najis dan hadas, menyempurnakan ruku’ dan sujud, serta menjaga sunnah-sunnahnya. Ibnu Katsir menegaskan bahwa memelihara shalat berarti melaksanakannya tepat waktu. Qatadah mengatakan, menjaga shalat juga mencakup kesempurnaan ruku’ dan sujudnya.
Shalat yang Istiqamah
Allah Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ
“Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma‘ārij: 23)
Ust. Agus mengutip Shafwatut Tafāsīr karya Ali Ash-Shabuni yang menjelaskan ayat ini dengan ungkapan: مُوَاظِبُونَ عَلَىٰ أَدَاءِ الصَّلَاةِ لَا يَشْغَلُهُمْ عَنْهَا شَاغِلٌ, yakni mereka yang senantiasa konsisten dalam menunaikan shalat dan tidak disibukkan oleh apa pun darinya. Artinya, ketika waktu shalat tiba, mereka segera menunaikannya dengan penuh tanggung jawab, tanpa menjadikan urusan dunia sebagai penghalang hubungan dengan Allah.
Shalat yang Dilalaikan
Allah Ta’ala juga memberikan peringatan keras tentang shalat yang dilakukan dengan sikap lalai. Dia berfirman:
الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Mā‘ūn: 5)
Dalam Shafwatut Tafāsīr dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah الَّذِينَ هُمْ غَافِلُونَ عَنْ صَلَاتِهِمْ يَعْنِي الْمُنَافِقِينَ, yakni orang-orang yang lalai dari shalatnya, yaitu kaum munafik. Mereka melaksanakan shalat tanpa kesadaran, tanpa kehadiran hati, dan tanpa rasa takut kepada Allah, sehingga shalat hanya menjadi formalitas belaka.
Ust. Agus menegaskan, Isra Mi’raj mengajarkan bahwa shalat adalah ukuran kejujuran iman seorang hamba. Shalat yang khusyuk, terjaga, dan istiqamah akan mengangkat derajat pelakunya. Sebaliknya, shalat yang dilakukan dengan sikap main-main dan kelalaian justru menjadi tanda kemunafikan yang sangat berbahaya.
(SFR/Sajada.id}



Komentar