Hadits
Beranda » Berita » Hadits ke-15 Arbain Nawawi: Hormati Tamu, Hormati Tetangga, dan Berkata yang Baik

Hadits ke-15 Arbain Nawawi: Hormati Tamu, Hormati Tetangga, dan Berkata yang Baik

Hormati Tamu, Hormati Tetangga, dan Berkata yang Baik

SAJADA.ID—Sahabat yang dirahmati Allah SWT. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (SAW) menyukai umatnya yang mau membantu dan menolong orang lain. Selain itu, Rasulullah SAW juga sangat senang bila umatnya suka menghormati dan memuliakan tamu, memuliakan tetangganya.

Hal ini dibuktikan dengan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia menghormati tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia menghormati tamunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Makna dari Sya’ban Sebagai Bulan Mulia

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meyampaikan akan pentingnya menjaga lisan untuk selalu berkata yang baik. Jika tidak mampu berkata baik, maka lebih baik diam, daripada berbicara tetapi buruk.

Selain itu, beliau juga menyampaikan pentingnya seorang umat menghormati tetangganya. Sebab, tetangga adalah ‘saudara terdekat’ saat kita memerlukan pertolongan dan bantuannya. Bahkan ketika ada musibah, tetangga punya andil besar membantu dan meringankan beban kita.

Dan dari hadits di atas pula, Rasulullah SAW mengingatkan agar umat Islam dapat memuliakan dan menghormati tamu. Karena tamu itu membawa berkah bagi tuan rumah. Nah, menjaga adab bicara, menghormati tetangga, memuliakan tamu, adalah bagian dari iman.

Iman yang ada di dalam hati harus memiliki buahnya dalam lidah (lisan), dan anggota tubuh lainnya. Karena iman itu tidak hanya dalam hati, tapi—menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah—iman itu adalah meyakini dengan hati, kemudian mengucapkan dengan kata-kata dan juga beramal dengan organ tubuh kita. Itu adalah iman.

Nekat Berhubungan Intim di Siang Hari Ramadhan, Lelaki Ini Mengaku Celaka

Makanya dalam sebuah hadits shahih dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

“Iman itu ada 70 sekian cabang, yang paling tinggi adalah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu itu adalah salah satu cabang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah kandungan hadits ke-15 kitab Arbain Nawawi. Semoga bermanfaat.

Inilah Golongan yang Mengiringi Jenazah

(syahruddin el fikri/sajada.id/)