
Hadis Arbain ke-31: Dunia Itu Manis dan Hijau, Tapi Bahaya Lisan dan Syahwat Mengintai
sajada.id/, JAKARTA —Rasulullah ﷺ dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim memberikan peringatan mendalam tentang fitnah dunia dan wanita. Pesan penuh hikmah ini tercantum dalam Hadis ke-31 dari Arba’in an-Nawawi, salah satu kumpulan hadis yang mengajarkan fondasi moral dan spiritual umat Islam sepanjang zaman.
Dari Abu al-‘Abbas Sahl bin Sa’d as-Sa‘idi RA, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
Artinya: “Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian khalifah di dalamnya untuk melihat bagaimana perbuatan kalian. Maka berhati-hatilah terhadap (fitnah) dunia dan berhati-hatilah terhadap (fitnah) wanita, karena sesungguhnya fitnah pertama Bani Israil adalah pada wanita.” (HR. Muslim)
Dunia yang Indah Tapi Menipu
Dalam hadis ini, Rasulullah ﷺ menggambarkan dunia dengan dua kata yang menarik: ḥulwah (manis) dan khaḍirah (hijau). Keduanya menggambarkan kenikmatan dunia yang tampak indah dan menyenangkan. Namun, di balik keindahan itu tersembunyi ujian besar bagi manusia.
Imam an-Nawawi menjelaskan, Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk diuji: siapa yang benar-benar taat dan siapa yang tertipu oleh gemerlap dunia.
Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi)
Harta, jabatan, dan kesenangan dunia sering kali menipu pandangan manusia. Apa yang tampak manis bisa berujung pahit bila tidak disertai iman dan takwa.
Fitnah Wanita dan Godaan Syahwat
Rasulullah ﷺ melanjutkan peringatan itu dengan kalimat, “Fattakud-dunya wa’ttakun-nisā’” — “Maka bertakwalah terhadap dunia dan terhadap wanita.”Islam tidak memandang wanita sebagai sumber keburukan, melainkan memperingatkan laki-laki agar menjaga diri dari syahwat dan keinginan yang melampaui batas.

Fitnah wanita menjadi ujian besar karena menyentuh sisi paling lembut dari hati manusia: cinta dan nafsu.Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
"مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ"
“Tidak aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki setelahku daripada wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Para ulama menegaskan, fitnah wanita bukan pada dirinya, tetapi pada ketidakmampuan laki-laki menjaga pandangan dan kehormatannya.
Bahaya Lisan dan Syahwat di Antara Dua Paha
Rasulullah ﷺ juga memperingatkan dalam hadis lain tentang dua sumber utama kehancuran manusia: lisan dan kemaluan.
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ فَخِذَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Barang siapa yang dapat menjamin bagiku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisannya) dan apa yang ada di antara dua pahanya (kemaluannya), maka aku jamin baginya surga.” (HR. Bukhari)
Lisan yang tak dijaga bisa menebar fitnah, ghibah, dan kebencian. Sedangkan syahwat yang tak terkendali menjerumuskan manusia ke dalam perzinaan dan kehinaan.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menulis:
“Tidak ada dua hal yang lebih cepat menjerumuskan manusia ke neraka selain panjang lidah dan longgarnya syahwat.”
Kedua hal ini, menurut para ulama, saling berkaitan erat dengan fitnah dunia dan wanita yang disebut dalam hadis ke-31 tadi.Lisan yang liar sering menjadi awal fitnah, sementara syahwat yang dibiarkan bebas menjadi puncak kehancuran moral.
Tiga Fitnah Besar Manusia
Para ulama menyimpulkan, ada tiga fitnah besar yang senantiasa mengintai manusia:
1. Cinta dunia — yang melahirkan keserakahan.
2. Lisan yang tidak dijaga — yang menimbulkan permusuhan dan dosa sosial.
3. Syahwat yang tak terkendali — yang menghancurkan kehormatan dan rumah tangga.
Ketiganya adalah bagian dari ujian kekhalifahan manusia di muka bumi. Maka, orang beriman hendaknya menggunakan dunia dengan bijak, menjaga lisannya, serta menundukkan syahwatnya demi keselamatan akhirat.
Pesan Takwa dan Refleksi
Hadis ke-31 ini sejatinya mengandung pesan universal: dunia bukan musuh, tetapi ujian.Yang berbahaya bukan hartanya, bukan wanitanya, melainkan ketika hati manusia tunduk kepada keduanya tanpa kendali iman.
Rasulullah ﷺ menutup peringatannya dengan kalimat yang sarat hikmah: “Fattakud-dunya wa’ttakun-nisā’.”“Maka bertakwalah terhadap dunia dan terhadap wanita.”

Dalam konteks modern, pesan ini mengajak umat untuk berzuhud secara cerdas — hidup di dunia tanpa diperbudak dunia.Menjaga lidah di era media sosial, menjaga pandangan di tengah derasnya godaan visual, dan menjaga kehormatan di zaman kebebasan syahwat adalah wujud nyata ketakwaan hari ini.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber Rujukan:
Imam an-Nawawi, Al-Arba‘in an-Nawawiyyah, hadis ke-31
Syarh Shahih Muslim, karya Imam an-Nawawi
Fath al-Bari, Ibn Hajar al-‘Asqalani
Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali
Riyadhus Shalihin, bab tentang fitnah dunia
(Syahruddinsajada.id/)


