Setiap manusia, umat Islam khususnya, berkeinginan amal ibadahnya senantiasa berlipat ganda. Pahalanya terus meningkat, bertambah, bertambah, dan bertambah. Sehingga diharapkan saat Hari Penghitungan (Hari Kiamat) nanti, catatan amal kebaikannya banyak dan diterimanya dengan tangan kanannya.
Namun apa daya, terkadang, pahala amal yang telah menumpuk dan sangat banyak, tanpa disadari menjadi berkurang bahkan terhapuskan tanpa sisa. Sungguh sangat disayangkan.
Dalam kitab Nasha`ihul Ibad, Syekh Nawawi Al Bantani menyebutkan, sedikitnya ada enam perbuatan yang dapat menghapuskan amal manusia. Karena itu, perbuatan itu harus ditinggalkan dan dijauhi. Keenam perbuatan itu adalah:
1. Gemar atau suka berghibah, suka bergosip, dan membicarakan aib (kekurangan) orang lain.
Dalam sebuah hadis dikatakan, di Hari Kiamat nanti ada manusia yang muflis. Para sahabat bertanya, siapa manusia yang muflis itu? Rasul SAW menjawab; “muflis itu adalah orang yang bangkrut.” Mereka bangkrut bukan karena dagangannya hilang, tetapi yang hilang adalah catatan amal kebaikannya. Amal kebaikannya diberikan kepada orang yang difitnah, dia caci maki, dia bully. Hingga akhirnya amal kebaikannya habis, namun masih banyak orang-orang yang datang ingin mengambil pahalanya. Namun karena dirinya sudah tidak ada lagi, maka dosa kesalahan orang yang dia bully, kesalahan orang yang difitnah, akan diberikan kepadanya.
2. Hati yang Keras
Hati yang keras bukanlah karena terbuat dari besi atau baja, tetapi hatinya menjadi keras karena enggan menerima nasihat orang lain. Dia enggan menerima ajakan kebaikan, dia enggan mengikuti dakwah kebajikan, dia malas untuk beribadah. Sebaliknya ia suka menolak bahkan mencaci maki setiap perbuatan baik. Diajak pada kebaikan dia justru menganggapnya perbuatan itu mengganggunya.
Lantunan suara Al-Quran, dia anggap sebagai kegiatan berisik. Suara azan dia anggap mengganggu orang tidur. Kegiatan dakwah dia anggap hanya mengganggu aktivitas dirinya. Itulah hati yang keras laksana batu, enggan menerima kebaikan. (Na’udzubillah).
3. Cinta Dunia
Hubbuddunya atau cinta kepada dunia merupakan salah satu perbuatan yang harus dihindari. Sebab, kecintaan kepada harta dunia, kecintaan terhadap materi, dapat menjerumuskan seseorang pada kesesatan.
Dalam Al-Quran dikatakan, dunia ini hanyalah sandiwara, sebatas guyonan semata, bahkan dunia hanyalah senda gurau. Dalam hadis disebutkan, dunia ini hanya perhiasan, ia dibuat indah supaya orang tertarik, sehingga membuat orang lupa atau terlena.
4. Kurang Memiliki Rasa Malu
Belakangan ini, sifat atau rasa malu, perlahan sudah mulai luntur. Rasa malu sudah mulai memudar. Banyak orang yang tak merasa malu melakukan perbuatan dosa, memamerkan aurat ke khalayak ramai, bahkan menjual tubuh demi popularitas dan kepentingan hawa nafsu.
Sopan santun terhadap orang tua, kepada guru, kepada pemimpin, sudah mulai memudar. Tak jarang, ada siswa yang melaporkan gurunya ke polisi atau pengadilan, bahkan ada anak yang melaporkan orang tuanya ke meja hijau. Mereka tidak merasa malu bahwa perbuatan tersebut adalah salah, namun hawa nafsu mereka sudah merasuk ke dalam jiwa sehingga mereka tidak menyadarinya. Hal ini dikarenakan rasa malu sudah tak ada lagi dalam hatinya.
5. Panjang angan-angan
Thuulul Amal (panjang angan-angan), tinggi keinginan. Ini adalah salah satu ciri manusia yang akan terhapus pahala amal kebajikannya karena keinginannya yang tinggi, tetapi tidak menyadari akan batas dirinya.
Seandainya diriku kaya, maka…
Seandainya aku punya jabatan, maka aku akan….
Seandainya wajahku seperti artis, maka….
Banyak sekali angan-angannya, namun dia tidak sadar ingin kehidupan yang lebih baik tapi dirinya sendiri tidak mau berupaya maksimal, apalagi beribadah kepada Allah SWT.
6. Berbuat zalim kepada sesama makhluk ciptaan Allah
Perbuatan zalim sangat dilarang oleh Allah SWT. Seperti korupsi, mencuri, merampok, membunuh, memfitnah, berzina, berjudi, bahkan mengadu nasib dan menyiksa hewan, merupakan perbuatan zalim. Balasan bagi mereka ini, seandainya tidak bertobat, maka nerakalah tempatnya. Naudzubillah.
Wallahu a’lam.
Syahruddin E


