
Enam Hal yang Merusak Amal
Sibukkanlah diri dengan memperbanyak amal saleh, dan jauhi yang merusaknya.
Oleh Syahruddin El Fikri
sajada.id/–Setiap manusia tentu berharap amal ibadahnya terus bertambah, bertambah, dan bertambah. Semakin banyak amalnya, maka peluang masuk Surga juga akan semakin besar.
Amal saleh adalah bekal utama seorang mukmin dalam perjalanannya menuju Allah ﷻ. Namun, sebesar dan sebanyak apapun amal yang dikerjakan, tidak akan bernilai di sisi Allah jika tidak dibarengi dengan hati yang bersih dan ikhlas.
Dalam banyak nasihat para ulama salaf, disebutkan bahwa ada enam perkara yang bisa menghapus amal, menggugurkan pahalanya, bahkan bisa mengubahnya menjadi beban di akhirat kelak.
Perkara-perkara ini tersembunyi, sering luput dari perhatian, namun dampaknya sangat merusak.
Sebuah ungkapan terkenal yang dinukil oleh para ulama menyebutkan:
سِتَّةُ أَشْيَاءَ تُحْبِطُ الأَعْمَال: الاشْتِغَالُ بِعُيُوبِ الْخَلْقِ، وَقَسْوَةُ الْقَلْبِ، وَحُبُّ الدُّنْيَا، وَقِلَّةُ الْحَيَاء وَطُولُ الأَمَلِ، وَظُلْمٌ لاَ يَتُوبُ صَاحِبُهُ
Ungkapan ini ditemukan dalam kitab Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi (w. 620 H), yang merupakan ringkasan dari Minhaj al-Qashidin karya Ibn al-Jawzi, dan pada dasarnya merupakan penyederhanaan isi dari Ihya’ Ulum ad-Din karya Imam al-Ghazali (w. 505 H). Artinya, nasihat ini memiliki akar yang dalam pada tradisi tasawuf dan ilmu penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).
Mari kita telaah satu per satu makna dari keenam hal yang menghancurkan amal tersebut:
1. Sibuk dengan Aib Orang Lain (الاِشْتِغَالُ بِعُيُوبِ الْخَلْقِ)
Salah satu penyakit hati yang paling merusak adalah kecenderungan untuk mencari kesalahan orang lain. Ia akan melahirkan ghibah, hasad, riya’, bahkan takabbur. Seorang mukmin seharusnya sibuk mengoreksi diri, bukan mencari celah saudaranya.
Nabi ﷺ bersabda:
طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ
“Beruntunglah orang yang disibukkan oleh aib dirinya sendiri dari mengurusi aib orang lain.” (HR. al-Bazzar, sanad hasan)
2. Keras Hati (قَسْوَةُ الْقَلْبِ)
Hati yang keras adalah hati yang tidak bisa lagi menerima nasihat, tidak tersentuh oleh ayat-ayat Al-Qur'an, dan tidak merasa berdosa. Ia adalah hasil dari banyaknya maksiat dan lalai dari dzikir.
Allah ﷻ berfirman:
فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ
“Maka celakalah orang-orang yang hatinya keras terhadap peringatan Allah.” (QS. Az-Zumar: 22)
3. Cinta Dunia (حُبُّ الدُّنْيَا)
Cinta dunia adalah penyakit yang merusak orientasi amal. Ketika dunia menjadi tujuan, maka amal pun hanya dilakukan demi pujian, kedudukan, atau keuntungan pribadi. Padahal dunia hanyalah sarana, bukan tujuan utama seorang mukmin.
Nabi ﷺ bersabda:
حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ
“Cinta dunia adalah akar dari segala kesalahan.” (HR. al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).
4. Sedikit Rasa Malu (قِلَّةُ الْحَيَاءِ)
Malu adalah rem spiritual. Ia mencegah seseorang dari berbuat maksiat dan mendorongnya untuk berbuat baik. Ketika rasa malu hilang, manusia akan mudah melanggar batas.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَان
“Malu adalah cabang dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tanpa rasa malu, seseorang bisa bermaksiat terang-terangan, bahkan membanggakan dosa yang dilakukannya.
5. Panjang Angan-Angan (طُولُ الأَمَلِ)
Panjang angan membuat seseorang lalai. Ia merasa masih banyak waktu untuk taubat, untuk beramal, hingga akhirnya ajal datang tiba-tiba tanpa persiapan.
Hasan al-Bashri berkata:
“Waspadalah terhadap panjang angan-angan. Demi Allah, tidak ada yang memperdaya manusia selain itu. Ia berkata, ‘Besok aku akan beramal, esok aku akan bertobat,’ hingga ajal mendatanginya tanpa ia sadari.”
6. Zalim yang Tak Ditaubati (ظُلْمٌ لاَ يَتُوبُ صَاحِبُهُ)
Kezaliman adalah dosa besar, terutama terhadap sesama manusia. Jika pelakunya tidak meminta maaf dan mengembalikan hak yang dirampas, maka amal kebaikannya bisa diberikan kepada korban kezaliman di akhirat.
Nabi ﷺ bersabda:
مَن كَانَتْ عِندَهُ مَظْلِمَةٌ لأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا الْيَوْم
“Siapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia meminta maaf darinya hari ini (sebelum datang hari kiamat yang tidak ada dinar dan dirham).” (HR. Bukhari)
Enam perkara di atas adalah racun tersembunyi dalam amal. Mereka tidak selalu tampak di permukaan, namun pengaruhnya sangat dalam. Maka, siapa pun yang ingin menjaga amalnya, hendaknya memperhatikan kondisi hatinya setiap waktu.
Sebagaimana ditulis oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum ad-Din, “Amal tanpa hati yang bersih adalah seperti tubuh tanpa ruh.” Artinya, amal yang dilakukan tanpa ikhlas, tanpa perbaikan batin, akan menjadi sia-sia di hadapan Allah ﷻ.
Semoga Allah menjaga amal-amal kita dari hal-hal yang menghapusnya, dan membimbing hati kita untuk selalu bersih, jujur, dan taat kepada-Nya.
—
Referensi:
1. Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Din, Dar al-Fikr, Beirut.
2. Ibn al-Jawzi, Minhaj al-Qashidin.
3. Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, tahqiq: Ali Hasan al-Halabi.
4. HR. Bukhari, no. 2449.
5. HR. Muslim, no. 35.
6. HR. al-Bazzar dalam Musnad-nya.
7. HR. al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, no. 10253.
8. Tafsir Ibn Katsir, QS. Az-Zumar: 22.


