Agama
Beranda » Berita » Doakan Para Leluhur, PRNU Rangkapan Jaya Baru Gelar Acara Ruwahan Akbar dan Khatmil Qur’an

Doakan Para Leluhur, PRNU Rangkapan Jaya Baru Gelar Acara Ruwahan Akbar dan Khatmil Qur’an

SAJADA.ID – Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Rangkapan Jaya Baru menggelar Ruwahan Akbar di Masjid Jami Daarul Mu’minin, Ahad (16/2/2026) bertepatan 28 Sya’ban 1447 H.

Kegiatan ini diisi dengan Tadarus Al-Qur’an, Khatmil Qur’an, Yasin-Tahlil, serta doa bersama untuk para sesepuh, leluhur, dan para muassis Nahdlatul Ulama. Acara berlangsung sejak pagi hingga malam hari dengan penuh khidmat.

Sejak bakda Subuh, jamaah telah memulai Tadarus Al-Qur’an yang berlangsung hingga sore hari. Lantunan ayat-ayat suci menggema di dalam masjid, menjadi pembuka rangkaian kegiatan menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Ruwahan Akbar PRNU Rangkapan Jaya Baru: KH A. Fakhruddin Murodih Tegaskan Keberuntungan Umat Nabi Muhammad

Memasuki bakda Maghrib, dilaksanakan Khatmil Qur’an yang dilanjutkan doa arwah. Jamaah bersama-sama menghadiahkan bacaan dan doa untuk para ulama, pendahulu, serta tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama yang telah wafat.

Yasin-Tahlil dan Doa Bersama

Malam harinya, bakda Isya, digelar acara puncak Ruwahan Akbar dengan menghadirkan penceramah KH A. Fakhruddin Murodih, MA dan Ust. Ismatullah.

Tausiyah yang disampaikan menekankan pentingnya mensyukuri nikmat menjadi umat Nabi Muhammad ﷺ serta memaksimalkan ibadah di bulan Ramadhan.

Dalam tausiyahnya, KH Fakhruddin menegaskan betapa beruntungnya umat Nabi Muhammad ﷺ yang dianugerahi dua cahaya: cahaya Al-Qur’an dan cahaya Ramadhan. Dua cahaya itu menjadi penerang dari kegelapan kubur dan dahsyatnya hari kiamat.

Sari Ramada Arafah Gelar Manasik Haji untuk Kedua Kalinya

Apresiasi

Sementara itu, Ustadz Hadi Darmawan menyampaikan bahwa kegiatan Ruwahan merupakan tradisi yang telah berlangsung puluhan tahun di lingkungan Nahdliyin. Tradisi ini menjadi media menjaga kesinambungan nilai, adab, dan kecintaan kepada ulama serta pendahulu.

“Ruwahan ini bukan hanya agenda tahunan, tetapi bagian dari warisan ruhani yang harus terus dijaga. Di dalamnya ada doa, silaturahim, dan persiapan menyambut Ramadhan,” ujarnya.

Ust. Ismatullah menyampaikan tausiyah.

Ruwahan adalah momentum spiritual untuk membersihkan diri menjelang Ramadhan, memperbanyak istighfar, mempererat silaturahim, dan mendoakan para leluhur. Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk penghormatan kepada orang-orang saleh yang telah lebih dahulu berpulang.

Menyambut Ramadhan dengan Tradisi Ruwahan, Munggahan, dan Nyadran: Warisan Budaya Sarat Makna Ibadah

Ustadz Hadi juga menyampaikan apresiasi kepada pengurus DKM Masjid Daarul Mu’minin yang telah memfasilitasi terselenggaranya kegiatan dari pagi hingga malam dengan tertib dan penuh semangat kebersamaan.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama, memohon agar Allah SWT menerima amal ibadah para jamaah, mengampuni dosa para leluhur, serta mempertemukan seluruh umat dengan Ramadhan dalam keadaan sehat dan penuh keberkahan.

Ruwahan Akbar ini menjadi bukti bahwa tradisi Ahlussunnah wal Jamaah tetap hidup dan mengakar di tengah masyarakat, sekaligus menjadi penguat spiritual menjelang bulan suci yang dinanti-nantikan.

(Syahruddin/sajada.id)

Mahasiswa Kafilah Dakwah Dilepas, Kemenag Harapkan Dakwah Berdampak Nyata

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *