Doa
Beranda » Berita » Doa Keluar Rumah yang Sering Terlupakan, Padahal Bagus Banget

Doa Keluar Rumah yang Sering Terlupakan, Padahal Bagus Banget

Doa Keluar Rumah yang Sering Terlupakan, Padahal Bagus Banget

SAJADA.ID, JAKARTA—Ada satu doa agung yang diajarkan Rasulullah ﷺ untuk dibaca setiap kali seorang Muslim melangkah keluar rumah. Doa ini bukan hanya permohonan keselamatan fisik, tetapi perlindungan menyeluruh agar kita terhindar dari segala bentuk kesalahan, kelalaian, keburukan, dan kezaliman—baik sebagai pelaku maupun sebagai korban.

Berikut doa lengkapnya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

Allāhumma innī a‘ūdzu bika an adhilla au udhalla, au azilla au uzalla, au azhlima au uzhlama, au ajhala au yujhala ‘alayya.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari aku tersesat atau disesatkan orang lain, dari aku tergelincir atau digelincirkan orang lain, dari aku menzalimi atau dizalimi orang lain, dan dari kebodohanku atau dibodohi orang lain.”(HR. Abu Dawud, no. 5094; At-Tirmidzi, no. 3427; An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, 8/268)

Doa Khusus Bagi Mayit, Arab, Latin, dan Terjemahnya

Makna Mendalam Doa Keluar Rumah

1. Tersesat atau Disesatkan (أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ)

Permohonan agar dijauhkan dari arah hidup yang salah, keputusan yang keliru, serta pengaruh buruk dari manusia, hawa nafsu, maupun setan.Ibnul Qayyim menyebut bahwa kesesatan sering bermula dari kelalaian hati, sehingga doa ini menjadi penjaga agar langkah tetap terarah pada kebenaran.

2. Tergelincir atau Digelincirkan (أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ)

Habib Umar: Rajab Adalah Bulan Allah

Bukan hanya tergelincir secara fisik, tetapi jatuh dalam maksiat, kesalahan besar, atau perbuatan yang memudaratkan diri sendiri.Ini juga mencakup bahaya dari orang lain yang bisa menjerumuskan atau menjatuhkan seseorang dalam kesalahan.


3. Menzalimi atau Dizalimi (أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ)

Islam melarang keras setiap bentuk kezaliman. Doa ini meneguhkan agar kita tidak menyakiti, merampas hak, atau merugikan orang lain, serta sekaligus meminta perlindungan dari perlakuan zalim pihak lain.

Doa-Doa Istimewa di Bulan Rajab

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Berbuat Bodoh atau Dibodohi (أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ)

Kebodohan di sini berarti tindakan yang emosional, kasar, atau tidak beradab. Doa ini memohon agar seseorang tidak mudah lepas kendali, tidak dipermainkan, dan tidak dijadikan sasaran perilaku jahil orang lain.

Doa Awal Bulan Rajab Takkan Tertolak

Mengapa Doa Ini Dianjurkan Saat Keluar Rumah?

Keluar rumah berarti memasuki dunia yang penuh interaksi dan risiko: urusan pekerjaan, sosial, perjalanan, hingga situasi tak terduga.Karena itu, doa ini menjadi benteng spiritual untuk menjaga akhlak, pikiran, serta keselamatan dari segala bentuk keburukan yang tampak maupun tersembunyi.

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ juga membaca doa:

Doa Hari ke-2 Puasa Ramadhan

Bismillāh, tawakkaltu ‘alallāh, lā haula wa lā quwwata illā billāh.” (HR. Abu Dawud)

Kedua doa ini jika diamalkan bersamaan akan memberikan perlindungan yang sempurna: tawakkal dan penjagaan dari segala celah keburukan.


Pesan Moral: Selamat dalam Setiap Langkah

Doa Hari ke-3 Ramadhan

Doa ini mengajarkan bahwa keselamatan sejati mencakup:selamat dari kesalahan dan kecerobohan,selamat dari penipuan dan jebakan,selamat dari kezaliman, baik sebagai pelaku maupun korban,selamat dari tindakan bodoh yang merusak diri atau orang lain.

Dengan membacanya, seorang Muslim menyerahkan langkahnya kepada Allah serta memohon bimbingan agar semua aktivitasnya menjadi aman, berkah, dan bernilai ibadah hingga kembali ke rumah dalam keadaan selamat.

Semoga Allah melindungi setiap langkah kita, menjauhkan dari keburukan, dan mengantarkan kita kembali ke keluarga dengan selamat dan penuh berkah. Aamiin.

Referensi Hadits dan Kitab

1. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, no. 5094

2. At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, no. 3427

3. An-Nasa’i, As-Sunan Al-Kubra, 8/268

4. Ibn Hajar, Fathul Bari

5. Ibnul Qayyim, Al-Fawaid

6. Imam Nawawi, Al-Adzkar