SAJADA.ID, MEDAN — Isu perubahan iklim dan tudingan terhadap sawit sebagai pemicu bencana menjadi perbincangan serius dalam Diskusi Ilmiah bertajuk “Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan Iklim Global sebagai Pemicu Bencana di Sumatra” yang digelar di Kampus Universitas Sumatra Utara (USU), Selasa (10/2). Forum ini mempertemukan akademisi, pemerintah, hingga pelaku industri untuk membedah persoalan secara ilmiah dan proporsional.
Menghadapi potensi bencana yang terus meningkat, Wakil Rektor III USU Prof. Dr. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan menegaskan pentingnya pendekatan kolaboratif antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat. Menurutnya, tantangan perubahan iklim tidak bisa disikapi dengan saling menyalahkan, melainkan dengan kerja bersama berbasis data.
“Kita perlu merumuskan kerja bersama yang solid untuk memperkuat ketahanan wilayah terhadap bencana. Perguruan tinggi memiliki peran penting melalui kebijakan berbasis riset, data empiris, dan kajian multidisipliner, bukan sekadar asumsi atau persepsi,” kata Prof. Poppy.
Ia menambahkan, kampus harus menjadi ruang dialog ilmiah yang objektif, termasuk dalam melihat relasi antara sawit, tata kelola lingkungan, dan perubahan iklim global.
Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Dr. Ardhasena Sopaheluwakan menegaskan bahwa peningkatan bencana hidrometeorologi di Sumatra tidak bisa dilepaskan dari dampak pemanasan global. Suhu bumi yang terus meningkat memicu cuaca ekstrem dan curah hujan berintensitas tinggi.
Menurutnya, siklon tropis dan pemanasan suhu permukaan laut berkontribusi besar terhadap hujan ekstrem yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir 2025. Bahkan, kejadian hujan yang sebelumnya memiliki periode ulang 100 tahunan, kini berpotensi terjadi lebih sering.
“Perubahan iklim global membuat kejadian ekstrem menjadi semakin intens dan berulang dalam waktu yang lebih singkat. Ini perlu diantisipasi dengan mitigasi yang serius,” ujarnya.
Guru Besar Fakultas Pertanian USU Prof. Dr. Abdul Rauf menilai bahwa sawit kerap menjadi kambing hitam setiap kali terjadi bencana. Padahal, menurutnya, persoalan utama sering kali terletak pada tata kelola lahan dan perencanaan ruang yang kurang disiplin.
Ia menjelaskan, secara agronomis, tanaman sawit memiliki sistem perakaran yang mampu menyerap air dalam jumlah besar. Namun, jika ditanam di lahan yang tidak sesuai peruntukan atau tanpa konservasi tanah yang baik, risiko kerusakan lingkungan tetap bisa terjadi.
“Yang perlu dibenahi adalah tata kelolanya. Sawit pada lahan yang tepat dan dikelola dengan prinsip keberlanjutan justru bisa menjadi bagian dari solusi,” tegasnya.
Senada dengan itu, Guru Besar Ekonomi Pertanian USU Prof. Dr. Diana Chalil menyoroti peran strategis sawit dalam menopang ekonomi masyarakat, khususnya di Sumatra. Ia mengingatkan agar diskursus lingkungan tidak mengabaikan aspek sosial dan ekonomi jutaan petani yang bergantung pada komoditas tersebut.
Menurutnya, pascabencana justru sektor perkebunan sawit sering menjadi penopang pemulihan ekonomi daerah. Karena itu, pendekatan yang diambil harus berimbang antara perlindungan lingkungan dan keberlanjutan ekonomi rakyat.
“Kita harus objektif. Sawit memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan daerah dan kesejahteraan petani. Yang diperlukan adalah penguatan praktik berkelanjutan dan kepatuhan terhadap regulasi,” ujarnya.
Hindari Isu Menyesatkan
Dari kalangan industri, Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI) Kacuk Sumarto menekankan pentingnya literasi publik agar isu sawit dan perubahan iklim tidak berkembang menjadi narasi yang menyesatkan. Ia mendorong kolaborasi antara industri dan akademisi dalam memperkuat praktik perkebunan berkelanjutan.
Hal senada disampaikan Ketua GAPKI Sumatra Utara Timbas Prasad Ginting, yang menegaskan komitmen pelaku usaha untuk mematuhi standar keberlanjutan, termasuk prinsip ISPO dan praktik ramah lingkungan.
Diskusi tersebut diikuti perwakilan pemerintah daerah, petani sawit, asosiasi industri, serta mahasiswa. Forum ini diharapkan menjadi ruang dialog ilmiah yang konstruktif, sehingga isu perubahan iklim dan peran sawit dapat dilihat secara komprehensif—berbasis data, bukan sekadar opini.
(Syahruddin/sajada.id)



Komentar