
Ramadhan dan Kepedulian Sosial
Oleh: Syahruddin El Fikri
Sahabat Rumah Berkah yang dirahmati Allah.
Ibadah puasa bertujuan untuk membentuk jiwa seorang Muslim menjadi yang bertakwa kepada Allah SWT, yakni senantiasa mengerjakan perbuatan-perbuatan yang diperintahkan-Nya dan menjauhi dari segala yang dilarang-Nya.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).
Dibalik tujuan yang mulia itu, berpuasa juga semestinya mampu meningkatkan kepedulian kepada sesama (jiwa sosial). Jadi, selain bertujuan untuk kepentingan vertikal kepada Allah, puasa juga membentuk kepedulian sosial terhadap sesama (horizontal), terutama orang-orang fakir, miskin, dhuafa dan yatim piatu. Sebab, salah satu misi terpenting dalam Islam adalah membela, menyelamatkan, membebaskan, melindungi, dan memuliakan kelompok yang lemah dan papa (dhuafa).
Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan, bahwa Allah hanya akan menerima shalat dari orang-orang yang menyayangi fakir miskin, ibnu sabil, perempuan yang ditinggal suaminya, dan menyayangi orang-orang yang tertimpa musibah.
Ketika Nabi Musa AS bertanya kepada Allah SWT, “Tuhanku, dimana aku harus mencari-Mu?” Lalu Allah menjawab; “Carilah Aku ditengah-tengah mereka yang hancur hatinya.”
Dalam kitab Adz-Dzull wa al-inkisar li al-‘aziz al-Jabbar al-khusyu’ fi as-shalah, karya Ibnu Rajab al-Hanbali, Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Said al-Khudri RA, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda; “Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan bangkitkanlah aku bersama orang-orang miskin.”
Nabi SAW bersabda; “Perhatikan, dan santunilah orang miskin, karena doanya dikabulkan oleh Allah SWT.”
Dalam Al-Qur’an, orang yang tidak memerhatikan orang miskin dan tidak memperlakukan anak yatim dengan baik, mereka itulah yang disebut dengan pendusta agama.
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Mereka itulah orang yang menghardik anak yatim dan enggan memberi makan orang-orang yang miskin.” (QS Al-Maun: 1-2).
Sepanjang hidupnya, Rasul SAW senantiasa memperhatikan kehidupan orang-orang yang kurang beruntung, kesusahan, lemah, miskin, dan anak-anak yatim piatu. Bahkan, beliau mengumpamakan dirinya dan orang-orang yang menyantuni anak yatim, laksana dua buah jari yang akan selalu bersama di hari kiamat nanti.
Karena itu, puasa bertujuan menumbuhkan kepedulian sosial terhadap sesama. Yakni memahami kondisi orang-orang yang kelaparan setiap hari, bahkan sepanjang hidupnya. Melalui puasa, Allah mengajarkan kepada umat Islam untuk belajar merasakan lapar dan dahaga seperti orang-orang miskin, yang setiap harinya selalu kekurangan.
Dengan rasa haus dan lapar, diharapkan akan timbul rasa kasih sayang antara yang kuat dengan yang lemah. Sehingga mampu menghapus kesenjangan sosial antara si kaya dengan si miskin. Islam secara tegas menyatakan, bahwa faktor utama kesenjangan sosial itu disebabkan oleh adanya jurang pemisah (gap) yang sangat tajam antara si kaya dan si miskin.
Karena itu, jika kita semua memiliki kepedulian sosial, niscaya negeri ini akan senantiasa diberkahi oleh Allah SWT. “Andai saja mereka (penduduk suatu negeri) beriman dan bertakwa kepada Allah, maka niscaya Allah akan bukakan pintu keberkahan langit dan bumi (untuk kalian), tetapi kalian mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS al-A’raf [7]: 96).
Wallahu a’lam.


