
Abu Sufyan bin Harb: Dari Musuh Islam Menjadi Pembela Rasulullah ﷺ
sajada.id/–Abu Sufyan bin Harb—nama lengkapnya Shakhr bin Harb bin Umayyah—adalah salah satu tokoh penting Quraisy yang di masa jahiliyah dikenal sebagai musuh besar Rasulullah ﷺ. Ia memimpin banyak peperangan melawan kaum Muslimin, termasuk dalam Perang Uhud dan Perang Khandaq. Dalam sejarah Makkah, namanya selalu disejajarkan dengan Abu Jahal dan Abu Lahab, dua orang yang keras menentang dakwah Nabi ﷺ.
Namun, berbeda dengan keduanya yang mati dalam kekafiran, Abu Sufyan mendapatkan hidayah Allah pada masa Fathul Makkah (Penaklukan Kota Makkah). Saat itu, Rasulullah ﷺ memasuki kota kelahirannya dengan penuh kasih sayang, tanpa menumpahkan darah, seraya bersabda:
“Barangsiapa yang masuk ke dalam rumah Abu Sufyan, maka ia aman. Barangsiapa yang menutup pintu rumahnya, ia pun aman.” (HR. Muslim, no. 1780)
Perkataan mulia Nabi ini mengguncang hati Abu Sufyan. Ia yang selama ini memusuhi Rasulullah ﷺ, justru diberi kehormatan dan jaminan keselamatan. Di sanalah awal cahaya Islam mulai menembus dinding keras hatinya.
Malam Pembebasan Makkah
Diriwayatkan dalam Sirah Ibn Hisyam dan beberapa riwayat lain, pada malam setelah Fathul Makkah, Abu Sufyan berbicara dengan istrinya, Hindun binti Utbah—yang juga dikenal keras permusuhannya terhadap Islam. Namun malam itu, suasana berbeda. Di Masjidil Haram, kaum Muslimin menghabiskan malam dengan ruku’, sujud, dan thawaf dalam keheningan penuh dzikir.
Hindun berkata kepada suaminya, “Sesungguhnya aku ingin berbaiat kepada Rasulullah ﷺ.”
Abu Sufyan menjawab heran, :Aku melihat kamu ini masih kufur!”
Namun Hindun bersumpah: “Demi Allah, tidak pernah aku melihat sebelumnya Allah disembah dengan sebenar-benarnya sebagaimana telah dilakukan oleh Muhammad dan para sahabatnya di masjid ini. Mereka tidak menghabiskan malam kecuali dengan ruku’, sujud, dan thawaf hingga subuh.”
Abu Sufyan pun bertanya: “Apakah kamu melihat semua ini dari Allah?”
Hindun menjawab tegas: “Ya, ini memang dari Allah!”
Keesokan harinya, Abu Sufyan menemui Rasulullah ﷺ. Sebelum ia sempat berbicara, Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:
“Semalam engkau bertanya kepada Hindun: ‘Apakah ini semua dari Allah?’ dan ia menjawab, ‘Ya, ini memang dari Allah.’”
Ucapan Nabi ﷺ itu membuat Abu Sufyan terdiam dan tak kuasa menahan keharuan. Ia sadar bahwa tidak mungkin seseorang mengetahui pembicaraan pribadinya kecuali seorang nabi yang mendapat wahyu. Seketika itu juga, imannya menguat. Ia pun menyatakan kembali syahadatnya dengan penuh keyakinan di hadapan Rasulullah ﷺ.
> “Demi Allah, tidak ada yang mendengar ucapanku itu selain Hindun,” ujar Abu Sufyan tertegun, meyakini kenabian Rasulullah ﷺ.
Ujian Iman di Perang Thaif
Setelah masuk Islam, Abu Sufyan tak sekadar menjadi Muslim pasif. Ia langsung ikut berjihad bersama Rasulullah ﷺ. Salah satu perang pertama yang diikutinya sebagai Muslim adalah Perang Thaif, melawan sisa-sisa kaum musyrikin yang masih menentang Islam.
Dalam pertempuran itu, panah musuh mengenai matanya hingga cedera parah. Ia datang kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata, “Wahai Rasulullah, mataku ini cedera di jalan Allah!”
Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, “Jika engkau ingin, aku akan berdoa kepada Allah agar penglihatanmu kembali seperti semula. Namun jika engkau ridha, untukmu surga karena cederamu ini.”
Abu Sufyan menjawab mantap, “Aku memilih surga saja, wahai Rasulullah!”
Sejak itu, ia hidup dengan mata yang cedera, namun penuh kesabaran dan kebahagiaan batin. Ia tak pernah menyesali kehilangan itu karena keyakinannya telah utuh bahwa pengorbanan di jalan Allah tak pernah sia-sia.
Pelajaran dari Perjalanan Hidup Abu Sufyan
Kisah Abu Sufyan bin Harb menunjukkan bahwa hidayah adalah milik Allah semata. Ia dapat diberikan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya, bahkan kepada mereka yang dulu keras memusuhi kebenaran. Allah berfirman:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)
Abu Sufyan membuktikan bahwa keimanan sejati lahir dari kejujuran hati yang mau melihat kebenaran. Setelah ia memeluk Islam, Rasulullah ﷺ tetap menghormatinya, dan ia pun menjadi tokoh penting dalam sejarah dakwah Islam selanjutnya.
Dalam riwayat Al-Bidayah wa an-Nihayah, disebutkan bahwa Abu Sufyan turut berjuang hingga masa Khalifah Abu Bakar, dan wafat dalam keadaan Muslim yang teguh, dengan keyakinan bahwa luka di matanya akan menjadi cahaya di akhirat.
Penutup
Kisah Abu Sufyan bin Harb adalah kisah tentang perubahan, pengampunan, dan kasih sayang Allah. Ia mengingatkan kita bahwa sebesar apa pun dosa seseorang di masa lalu, pintu taubat dan hidayah selalu terbuka.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.” (HR. Ibn Majah, no. 4250)
Dari sosok yang dulu menjadi pemimpin kaum musyrikin, Abu Sufyan berubah menjadi pejuang Islam yang sabar, beriman, dan rela berkorban di jalan Allah.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Referensi:
1. Sirah Ibn Hisyam, Juz 4
2. Ibn Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, jilid 6
3. Shahih Muslim, no. 1780
4. Shahih Ibn Majah, no. 4250
5. QS. Al-Qashash [28]: 56
(Syahruddin/sajada.id/)





