SAJADA.ID, DEPOK— Majelis Taklim (MT) Balai Wartawan Kota Depok mendorong penguatan ketahanan keluarga dan pendidikan agama untuk menghadapi semakin terbukanya kampanye identitas dan perilaku LGBTQ di ruang publik.
Pengasuh MT Balai Wartawan Kota Depok, Ustadz H. Syahruddin El Fikri, menilai keluarga dan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam membentengi generasi muda dari berbagai pengaruh yang dinilai bertentangan dengan nilai agama dan norma keluarga.
Sikap tersebut disampaikan menyusul kembali menjadi perhatian publiknya isu perilaku seksual sesama jenis di Kota Depok. MT Balai Wartawan meminta seluruh elemen masyarakat menyikapinya secara bijak melalui edukasi, dakwah, dan penguatan nilai keagamaan.
Ketua MT Balai Wartawan Kota Depok, Adie Rakasiwi, mengatakan Depok selama ini dikenal sebagai kota religius dan pendidikan. Karena itu, menurutnya, berbagai bentuk kampanye yang dapat memengaruhi moral generasi muda perlu mendapat perhatian bersama.
“Aktivitas penyebaran perilaku yang bertentangan dengan nilai agama dan norma masyarakat harus dicegah melalui edukasi dan langkah yang tepat,” ujar Adie, Selasa (11/8/2026).

Ia mengajak Pemerintah Kota Depok, kepolisian, TNI, organisasi keagamaan, organisasi kepemudaan, pendidik, dan masyarakat memperkuat sinergi dalam menjaga lingkungan yang sehat bagi anak dan remaja.
Adie juga menekankan pentingnya peran media dalam memberikan informasi yang edukatif. Menurutnya, pemberitaan mengenai isu LGBTQ sebaiknya tidak berhenti pada kontroversi, tetapi pada upaya membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya ketahanan keluarga dan pendidikan karakter.
Islam Mengajarkan Penghormatan terhadap Manusia
Sementara itu, pengasuh MT. Balai Wartawan Ustadz H. Syahruddin El Fikri menegaskan bahwa Islam mengajarkan penghormatan terhadap setiap manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.
Karena itu, menurutnya, penolakan terhadap suatu perilaku tidak boleh berubah menjadi penghinaan, perundungan, kekerasan, atau tindakan anarkis terhadap individu.
:Islam memuliakan manusia, tetapi pada saat yang sama juga memberikan batasan moral dan syariat. Perilaku homoseksual dan hubungan sesama jenis merupakan perbuatan terlarang dalam ajaran Islam,” kata Ustadz H. Syahruddin yang juga Ketua Umum Yayasan Rumah Berkah Nusantara.
Menurutnya, sikap yang perlu dikedepankan adalah dakwah, pendidikan, pembinaan, dan keteladanan. Pendekatan tersebut lebih penting untuk membangun kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda.
Ia menjelaskan, Al-Qur’an mengabadikan kisah Nabi Luth AS sebagai salah satu pelajaran mengenai perilaku seksual yang dipandang menyimpang dari ketentuan Allah SWT. Allah SWT berfirman:
أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kamu melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu di dunia ini? Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwat kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Bahkan, kamu adalah kaum yang melampaui batas.’” (QS. Al-A’raf: 80–81)
Syahruddin mengatakan kisah kaum Nabi Luth AS tidak semestinya hanya dipahami sebagai peristiwa sejarah. Kisah tersebut juga menjadi pelajaran mengenai pentingnya menjaga moral, keluarga, dan ketentuan agama.
“Peristiwa kaum Nabi Luth bukan sekadar kisah sejarah, tetapi menjadi pelajaran bagi umat manusia agar menjaga fitrah, moralitas, dan ketahanan keluarga,” ujarnya.
Perkuat Benteng Keluarga
Menurut Syahruddin, tantangan utama generasi muda tidak hanya datang dari satu isu. Anak-anak dan remaja juga menghadapi berbagai pengaruh melalui media sosial, lingkungan pergaulan, dan perkembangan budaya populer.
Karena itu, ia meminta orang tua tidak menyerahkan pendidikan moral dan agama sepenuhnya kepada sekolah maupun lingkungan.
“Benteng pertama adalah keluarga. Orang tua perlu hadir, berdialog dengan anak, memberikan pendidikan agama, serta menciptakan lingkungan yang sehat dan penuh kasih sayang,” tuturnya.
Ia juga mengajak para pendidik, tokoh agama, dan media mengambil bagian dalam memberikan literasi yang sehat kepada masyarakat.

Menurutnya, dakwah dalam menghadapi persoalan tersebut harus dilakukan secara bijaksana. Prinsip agama tetap dijaga, namun cara penyampaiannya harus menghindari kebencian dan kekerasan.
“Kita perlu memperkuat benteng keluarga, memperbanyak pendidikan keagamaan, serta menghadirkan lingkungan yang sehat bagi anak-anak dan generasi muda. Dakwah harus dilakukan dengan hikmah, kasih sayang, dan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip ajaran Islam,” pungkasnya.
(SFR/sajada.id)






Komentar