Rasulullah SAW menyampaikan, umatku takkan bersepakat dalam kesesatan.
SAJADA.ID—Sejak dahulu hingga kini, persoalan perpecahan umat selalu menjadi tema penting dalam diskursus keislaman. Perbedaan pendapat adalah keniscayaan, namun perpecahan yang berujung pada saling menyesatkan dan menjauh dari manhaj Rasulullah ﷺ adalah sesuatu yang telah diingatkan secara tegas oleh beliau.
Di tengah banyaknya kelompok, aliran, dan ragam pemahaman agama yang berkembang, termasuk dalam penetapan awal Ramadhan, umat Islam sering bertanya: ke mana harus berpegang? Siapa yang harus diikuti agar tetap berada di jalan yang lurus? Dalam konteks inilah istilah sawadul a’zham menjadi sangat relevan.
Rasulullah ﷺ tidak membiarkan umatnya tanpa pedoman. Beliau telah memberikan rambu-rambu agar kaum Muslimin tetap berada dalam barisan yang selamat, yakni bersama al-jama’ah dan sawadul a’zham.
Hadits tentang Sawadul A’zham
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi 71 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Al-jama’ah.”(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Dalam riwayat lain disebutkan sabda Nabi ﷺ:
فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ مَعَ الْحَقِّ وَأَهْلِهِ
“Apabila kalian berselisih, maka wajib atas kalian mengikuti sawadul a’zham yang berada bersama kebenaran dan para pengikutnya.”
Riwayat ini dinukil oleh para ulama hadits, di antaranya Al-Tabarani.
Demikian pula sabda Nabi ﷺ yang masyhur:
لَا تَجْتَمِعُ أُمَّتِي عَلَى الضَّلَالَةِ
“Umatku tidak akan bersepakat di atas kesesatan.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya.
Makna Sawadul A’zham
Secara bahasa, sawad berarti kumpulan besar, sedangkan a’zham berarti paling besar. Maka secara harfiah, sawadul a’zham bermakna “kelompok besar yang dominan.”

Namun para ulama menegaskan bahwa maknanya bukan sekadar mayoritas angka, melainkan mayoritas yang berada di atas kebenaran.
Al-Syathibi dalam kitab Al-I’tisham menjelaskan bahwa yang dimaksud al-jama’ah adalah kaum Muslimin yang berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat.
Demikian pula Imam Ahmad bin Hanbal menegaskan bahwa al-jama’ah adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran, meskipun jumlahnya sedikit. Artinya, ukuran utamanya adalah kesesuaian dengan manhaj Rasulullah ﷺ.
Mengapa Harus Mengikuti Sawadul A’zham?
1. Karena Perintah Nabi ﷺ
Sabda beliau jelas: ketika terjadi perselisihan, ikutilah sawadul a’zham. Ini menunjukkan bahwa keselamatan ada dalam kebersamaan yang berada di atas kebenaran.
2. Karena Umat Tidak Sepakat dalam Kesesatan
Hadits “La tajtami’u ummati ‘alad dhalalah” menjadi landasan penting dalam konsep ijma’. Mayoritas ulama yang mu’tabar tidak mungkin sepakat dalam penyimpangan.
3. Demi Menjaga Persatuan
Allah SWT berfirman:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”(QS. Ali ‘Imran: 103)
Mengikuti sawadul a’zham berarti menjaga ukhuwah dan menghindari sikap merasa paling benar sendiri.
4. Menjaga Keilmuan yang Bersambung
Islam diwariskan melalui sanad keilmuan. Mayoritas ulama Ahlussunnah wal Jama’ah menjaga transmisi ini dari generasi sahabat, tabi’in, hingga sekarang.
Bukan Sekadar Ikut Arus
Perlu ditegaskan, mengikuti sawadul a’zham bukan berarti mengikuti kebiasaan umum tanpa ilmu. Yang dimaksud adalah mengikuti mayoritas ulama yang kokoh ilmunya dan istiqamah dalam menjaga ajaran Rasulullah ﷺ.
Karena itu, prinsipnya kembali kepada:
- Al-Qur’an
- Sunnah Nabi ﷺ
- Pemahaman para sahabat
- Ijma’ ulama yang mu’tabar
Di tengah derasnya arus perbedaan dan klaim kebenaran dari berbagai kelompok, umat Islam membutuhkan pegangan yang kokoh. Konsep sawadul a’zham mengajarkan bahwa keselamatan ada pada kebersamaan umat yang tetap berada di atas kebenaran.
Bukan kelompok yang paling keras suaranya yang menjadi ukuran, melainkan yang paling setia pada manhaj Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.
Maka ketika terjadi perbedaan, jangan tergesa-gesa memisahkan diri. Lihatlah di mana mayoritas ulama yang lurus berdiri. Karena di situlah—insya Allah—jalan keselamatan berada.
(Syahruddin El-Fikri/sajada.id)



Komentar