SAJADA.ID – Sebanyak 272 dai muda resmi dilepas dalam program Praktik Dakwah Ramadhan (PDR) 1447 H yang diselenggarakan oleh Pesantren eLKISI. Prosesi pelepasan berlangsung khidmat di GOR eLKISI, Mojokerto, Senin (16/2), menandai dimulainya pengabdian para santri di berbagai daerah, baik di dalam maupun luar negeri.
Pimpinan Pesantren eLKISI, Fathurahman, membuka kegiatan dengan mengutip firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 104:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan tanggung jawab moral dan sosial umat Islam yang harus dijalankan dengan kesungguhan.
“Program PDR tahun ini mengirimkan santri kelas VIII dan XI ke berbagai wilayah, mulai dari sejumlah kota di Jawa Timur hingga menembus teritorial luar negeri seperti Singapura dan Timor Leste. Para dai akan terlibat dalam kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan, hingga penguatan masyarakat berbasis nilai-nilai Islam,” tegasnya.
Tugas Dakwah
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto, Amsar Azhari Siregar, S.H., M.M., yang turut hadir memberikan sambutan, berpesan agar para peserta menjaga diri dan nama baik lembaga selama menjalankan tugas dakwah. Ia juga menekankan pentingnya komunikasi, kolaborasi, dan adaptasi dengan masyarakat serta aparat setempat.
“Ini program luar biasa yang menjadi pengalaman berharga bagi para santri. Jadikan momentum ini sebagai ajang pembelajaran sekaligus pengabdian,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Ahmad Misbahul Anam, dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa 272 dai yang dilepas merupakan kekuatan besar yang akan menyapa masyarakat melalui pengabdian nyata.
Ia menekankan pentingnya membentuk generasi dai sejak usia muda. Dai, menurutnya, tidak cukup hanya piawai berpidato di atas mimbar, tetapi juga harus mampu terjun langsung ke lapangan untuk membantu menyelesaikan problem umat.Lebih lanjut, ia mengingatkan isyarat dalam QS. Al-Anfal ayat 33:
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka memohon ampun.”
“Kalianlah, anak-anakku, bagian dari benteng itu. Ajarkan kalimat istighfar di tengah masyarakat,” pesannya.
Para santri juga diingatkan untuk selalu membekali diri dengan tiga kekuatan ruhani: doa, sedekah, dan salat malam. Ketiganya menjadi sumber energi spiritual agar dakwah yang dijalankan membawa keberkahan, keselamatan, serta dampak positif bagi masyarakat.
Melalui program PDR ini, Pesantren eLKISI kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak dai-dai muda yang tangguh, berani, dan optimis. Dakwah dipandang bukan sekadar aktivitas lisan, melainkan kerja peradaban yang menuntut ilmu, akhlak, serta pengabdian nyata di tengah umat.
(Ummu Ahya Gyantie/Staf Pengajar STID Mohammad Natsir)



Komentar