Nasional
Beranda » Berita » NU dan Diplomasi Ulama Dunia: Mencegah Ancaman Perang Dunia Ketiga

NU dan Diplomasi Ulama Dunia: Mencegah Ancaman Perang Dunia Ketiga

NU Memiliki Potensi Besar Menjadi Penengah Kemungkinan Terjadinya Perang Dunia Ketiga.

SAJADA.ID, DEPOK — Meningkatnya eskalasi konflik global di berbagai kawasan dunia kembali membangkitkan kekhawatiran akan pecahnya Perang Dunia Ketiga. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Eropa Timur, hingga kawasan Asia Pasifik tidak lagi bersifat regional, melainkan saling terhubung dalam pola konflik global yang kompleks dan sistemik.

Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam Webinar Nasional LTN NU Kota Depok bertajuk “Ancaman Perang Dunia Ketiga dan Peran Nahdlatul Ulama dalam Diplomasi Perdamaian Global” yang digelar secara daring, Sabtu (24/1/2026) malam, dengan menghadirkan tokoh NU, akademisi hubungan internasional, serta pengurus PCINU dari berbagai belahan dunia.

Perang Global Baru: Senyap, Sistemik, dan Lintas Sektor

Tangani Aduan Jemaah, Kementerian Haji dan Umrah Kedepankan Mediasi dan Musyawarah

Pengamat hubungan internasional Nur Arif Makful, Ph.D., menjelaskan bahwa ancaman Perang Dunia Ketiga tidak lagi hadir dalam bentuk invasi militer terbuka seperti abad ke-20, melainkan melalui low warfare atau hybrid war—perang berintensitas rendah yang memadukan konflik proksi, tekanan ekonomi, perang informasi, hingga manipulasi hukum internasional.

Beberapa wilayah strategis seperti Venezuela, Taiwan, Iran, hingga Greenland disebut menjadi simpul penting perebutan pengaruh global antara kekuatan besar dunia.

“Konflik-konflik ini sering dibungkus isu domestik atau regional, padahal sejatinya merupakan bagian dari desain geopolitik global yang lebih besar,” ujar Gus Arif.

Sejahterakan Mustahik, BAZNAS Siapkan 29 Program Unggulan Ramadan 1447 H

Taiwan, misalnya, bukan sekadar sengketa wilayah, tetapi berkaitan dengan dominasi teknologi semikonduktor, kendali jalur laut Pasifik, dan keseimbangan kekuatan global. Sementara Greenland dan kawasan Arktik menjadi medan baru perebutan sumber daya strategis dan keunggulan militer masa depan.

NU dan Modal Diplomasi Keulamaan

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Depok, Dr. KH. Achmad Solechan, M.Si., menilai bahwa situasi global tersebut menuntut hadirnya aktor penyeimbang yang tidak terikat kepentingan blok kekuatan mana pun. Dalam konteks inilah, NU dinilai memiliki legitimasi moral dan kultural untuk memainkan peran strategis.

BKM Nururrahman Gelar Peringatan Malam Nisfu Sya’ban

“NU memiliki modal besar sebagai kekuatan keumatan yang moderat, diterima di banyak negara, dan tidak membawa agenda politik kekuasaan. Karena itu, saya berharap isu perdamaian global dan ancaman Perang Dunia Ketiga ini dapat menjadi isu utama yang dibahas secara serius pada Muktamar NU mendatang,” tegasnya.

Menurutnya, Muktamar NU perlu merumuskan arah besar diplomasi keulamaan global, termasuk penguatan peran PBNU dan jejaring PCINU sebagai duta perdamaian dunia.
“NU jangan hanya merespons konflik global secara reaktif, tetapi hadir dengan konsep, peta jalan, dan strategi diplomasi yang terukur,” tambahnya.

PCINU sebagai Aset Strategis NU Global

Webinar ini juga menegaskan pentingnya peran PCINU sebagai kepanjangan tangan NU di luar negeri. Ketua PCINU FREU, Dr. Amy Maulana, serta mantan Ketua PCINU Tiongkok, Kaula Fahmi, M.Hum, sepakat bahwa NU relatif diterima lintas budaya, lintas agama, dan lintas sistem politik.

Indonesia Asri, Kepemimpinan Ekologis dari Istana hingga Mimbar Agama

Hal tersebut menjadikan NU memiliki peluang besar untuk menjadi jembatan dialog antarperadaban di tengah polarisasi dunia yang kian tajam.

Perspektif Al-Qur’an: NU Merawat Perdamaian Semesta

Sementara itu, Ketua JQH NU Kota Depok, KH. Jazim Hamidi, menegaskan bahwa keterlibatan NU dalam diplomasi perdamaian global bukanlah agenda politis semata, melainkan amanat keagamaan yang bersumber dari Al-Qur’an.

Milad ke-5, BSI Dorong Gaya Hidup Sehat dan Literasi Investasi Emas Masyarakat

“Al-Qur’an diturunkan sebagai hudan linnas, petunjuk bagi seluruh manusia. Maka menjaga perdamaian dunia adalah bagian dari tanggung jawab ulama dan umat Islam,” ujarnya.

KH. Jazim menilai NU, dengan tradisi keilmuan, sanad keulamaan, dan pendekatan wasathiyah, memiliki kewajiban moral untuk mencegah umat manusia terjerumus dalam kehancuran akibat perang besar.

“Jika perang dunia benar-benar terjadi, yang hancur bukan hanya negara, tapi juga nilai-nilai kemanusiaan. NU harus berada di garda depan untuk mengingatkan dunia agar kembali pada jalan hikmah, dialog, dan keadilan,” tegasnya.

IPNU-IPPNU Sukmajaya Gelar Upgrading 1.0, Perkuat Manajemen Konflik dan Tata Kelola Organisasi

Media NU dan Narasi Tandingan Perang

Ketua LTN NU Kota Depok, Handy Fernandy, menambahkan bahwa media NU memiliki peran strategis dalam membangun narasi tandingan terhadap normalisasi perang.

“Perang tidak boleh diperlakukan sebagai keniscayaan. Media NU harus konsisten menyuarakan bahwa dialog, diplomasi, dan jalan damai adalah solusi,” ujarnya.

Webinar ini diharapkan menjadi pemantik kesadaran kolektif bahwa NU, melalui PBNU dan jejaring globalnya, memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu penengah moral dunia di tengah ancaman Perang Dunia Ketiga.

(Syahruddin/sajada.id)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *