Beasiswa gelar ganda antara University of Canberra dan UIN Sunan Ampel Surabaya ini merupakan pengembangan dari Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) berbasis co-funding yang diharapkan oleh LPDP.
SAJADA.ID, JAKARTA — Kementerian Agama kembali membuka peluang peningkatan kualitas sumber daya manusia pendidikan keagamaan melalui program Beasiswa S2 Double Degree hasil kolaborasi dengan Australia Awards Indonesia dan Lembaga
Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI. Program ini ditujukan bagi keluarga besar Kementerian Agama yang ingin melanjutkan studi magister bidang pendidikan bahasa Inggris di dalam dan luar negeri.
Melalui Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (PUSPENMA) Sekretariat Jenderal, Kemenag membuka pendaftaran Beasiswa S2 Double Degree (Split-Site Master Program Cohort-10). Penerima beasiswa akan menempuh pendidikan selama dua tahun, masing-masing satu tahun di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya dan satu tahun di Teaching English to Speakers of Other Languages (TESOL), University of Canberra, Australia.
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, mengatakan beasiswa gelar ganda antara University of Canberra dan UIN Sunan Ampel Surabaya ini merupakan pengembangan dari Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) berbasis co-funding yang diharapkan oleh LPDP.
“Program Beasiswa Master Gelar Ganda merupakan komitmen strategis terhadap kolaborasi internasional, keunggulan akademik, dan pengembangan kepemimpinan di sektor pendidikan tinggi keagamaan Indonesia,” ujar Kamaruddin Amin.
Beasiswa gelar ganda antara University of Canberra dan UIN Sunan Ampel Surabaya ini merupakan pengembangan dari Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) berbasis co-funding yang diharapkan oleh LPDP.
Alumni Bonn University, Jerman, tersebut menjelaskan bahwa melalui kemitraan dengan universitas-universitas terkemuka di Australia, termasuk University of Canberra, program ini diharapkan mampu melahirkan cendekiawan dan profesional pendidikan yang memiliki jejaring global serta kompetensi akademik yang kuat.
\Kepada pers, Kamaruddin Amin juga mengajak keluarga besar Kementerian Agama sebagai aktor utama pendidikan untuk memanfaatkan kesempatan beasiswa ini. “Beasiswa S2 Double Degree ini sangat strategis untuk mengembangkan karier sekaligus memperkuat lembaga pendidikan keagamaan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (PUSPENMA) Kementerian Agama, Ruchman Basori, menjelaskan bahwa beasiswa tersebut diperuntukkan bagi keluarga besar Kementerian Agama, meliputi pendidik (guru, ustaz, kiai), tenaga kependidikan pada lembaga pendidikan dasar dan menengah keagamaan, dosen, alumni Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK), serta pegawai Kementerian Agama.
\Ruchman menambahkan, civitas akademika pada lembaga pendidikan di bawah binaan Ditjen Pendidikan Islam, Ditjen Bimas Kristen, Ditjen Bimas Katolik, Ditjen Bimas Hindu, Ditjen Bimas Buddha, Pusat Konghucu, serta unit terkait lainnya diharapkan dapat mempersiapkan diri secara optimal untuk berkompetisi. Program ini, menurutnya, menjadi bagian dari upaya kaderisasi guru dan dosen bahasa Inggris di lingkungan pendidikan keagamaan.
Pendaftaran Beasiswa S2 Double Degree (Split-Site Master Program Cohort-10) dibuka mulai 25 Januari hingga 15 Februari 2026 melalui laman resmi beasiswa.kemenag.go.id. Adapun tahapan seleksi meliputi seleksi administrasi, tes bakat skolastik, wawancara oleh Kementerian Agama, serta seleksi substansi lanjutan oleh Australia Awards Indonesia berupa tes IELTS dan wawancara khusus.
Adapun persyaratan untuk mengikuti Beasiswa S2 Double Degree Tahun 2026 tersebut antara lain:
- Tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan pegawai pada satuan kerja di lingkungan Kementerian Agama dan/atau alumni Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK);
- Berusia maksimal 40 tahun pada 31 Desember 2026;
- Lulusan S-1 atau D-4 dari seluruh program studi dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,00 (skala 4,00);
- Belum pernah atau tidak sedang menempuh pendidikan jenjang magister (S-2);
- Memiliki kemampuan bahasa Inggris dengan skor minimal IELTS 6.0 atau TOEFL ITP 500;
- Memperoleh surat rekomendasi dari instansi terkait dan/atau akademisi atau tokoh masyarakat;
- Tidak sedang menerima pembiayaan pendidikan atau beasiswa dari sumber lain;
- Menulis personal statement atau motivation essay;
- Menyusun rencana studi (study plan);
- Tidak sedang atau akan mendaftar sebagai ASN (CPNS/PPPK) selama proses seleksi maupun selama menerima beasiswa;
- Menyetujui pernyataan komitmen dan integritas pada aplikasi pendaftaran.
Dengan dibukanya program beasiswa ini, Kementerian Agama berharap semakin banyak pendidik dan tenaga kependidikan keagamaan yang memiliki kompetensi global, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
(Syahruddin/sajada.id)



Komentar