Humor
Beranda » Berita » Bagi Tukang Cukur Ini, Tuhan itu Tak Ada

Bagi Tukang Cukur Ini, Tuhan itu Tak Ada

Tukang Cukur
Dialog antara tukang cukur dan pelanggannya tentang Tuhan dan orang gila. (pixabay)

Bagaimana Tuhan mau mengabulkan permohonan seseorang jika orang itu sombong dan tak mau meminta atau berdoa kepada Tuhan?

SAJADA.ID – Benarkah tuhan itu ada? kalau ada, kenapa dia membiarkan orang miskin kelihatan susah dan menderita? Kenapa orang kaya maunya seenaknya sendiri? Keberadaan tuhan ditolak menta-mentah oleh seorang tukang cukur, dalam dialig berikut ini. Dia baru sadar ketika ada hal sejenis yang membuatnya berpikir realistis. Berikut ini dialognya:

Suatu hari, seorang pria datang ke sebuah tempat cukur rambut. Seperti kebiasaan pada umumnya, tukang cukur dan pelanggan itu pun berbincang ringan. Awalnya obrolan biasa, hingga akhirnya mengalir ke topik yang lebih dalam: tentang kehidupan dan keberadaan Tuhan.

Di tengah proses mencukur, sang tukang cukur berkata dengan yakin,
“Menurut saya, Tuhan itu tidak ada.”

Tangani Aduan Jemaah, Kementerian Haji dan Umrah Kedepankan Mediasi dan Musyawarah

Pelanggan itu terkejut, lalu bertanya pelan,
“Mengapa Anda berpikir demikian?”

Tukang cukur tersenyum kecil.
“Coba Anda lihat ke luar. Di jalanan sana banyak orang menderita, kelaparan, kezaliman, dan kejahatan di mana-mana. Bahkan ada orang gila berkeliaran tanpa arah. Jika Tuhan benar-benar ada, mengapa semua itu dibiarkan terjadi?”

Pelanggan itu terdiam. Ia tidak langsung membantah. Setelah rambutnya selesai dicukur, ia membayar dan keluar dari tempat cukur tersebut. Namun belum jauh melangkah, ia melihat seorang pria dengan rambut panjang, kusut, kotor, dan tidak terurus—jelas orang yang sudah lama tidak bercukur.

Ia kembali masuk ke tempat cukur dan berkata,
“Saya rasa tukang cukur itu tidak ada.”

Sejahterakan Mustahik, BAZNAS Siapkan 29 Program Unggulan Ramadan 1447 H

Tukang cukur terkejut.
“Bagaimana mungkin? Saya ini ada, dan Anda baru saja dicukur oleh saya.”

Pelanggan itu tersenyum dan menjawab,
“Kalau tukang cukur benar-benar ada, mengapa masih ada orang dengan rambut sepanjang dan sekotor itu?”

Tukang cukur tertawa kecil.
“Itu bukan salah saya. Tukang cukur ada, tetapi orang itu tidak datang kepada saya.”

BKM Nururrahman Gelar Peringatan Malam Nisfu Sya’ban

Pelanggan itu pun menatapnya dan berkata pelan namun tegas,
“Begitu pula dengan Tuhan. Tuhan itu ada. Tetapi banyak manusia yang tidak mau datang kepada-Nya. Mereka tidak mau mengikuti petunjuk-Nya. Maka jangan salahkan Tuhan atas kekacauan dan penderitaan manusia.”

Tukang cukur terdiam. Tangannya berhenti bergerak. Kata-kata itu menancap dalam.


Hikmah di Balik Kisah

Dialog sederhana ini menyimpan pelajaran yang sangat dalam. Keberadaan masalah, penderitaan, bahkan “kegilaan” manusia bukanlah bukti ketiadaan Tuhan, melainkan bukti jauhnya manusia dari petunjuk-Nya.

Allah telah mengutus para nabi, menurunkan kitab-kitab, dan memberikan akal serta nurani sebagai “tempat cukur” bagi jiwa manusia. Namun, sebagaimana tukang cukur tidak bisa merapikan rambut orang yang tidak datang kepadanya, demikian pula hidayah tidak akan membersihkan hati orang yang enggan mendekat kepada Allah.

Indonesia Asri, Kepemimpinan Ekologis dari Istana hingga Mimbar Agama

Al-Qur’an menegaskan:

وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”
(QS. Ali ‘Imran: 117)

Kisah ini mengingatkan kita bahwa iman bukan sekadar perdebatan logika, melainkan keberanian untuk “datang” kepada Tuhan: melalui doa, ibadah, dan ketaatan. Tanpa itu, hati akan tetap kusut, meski kebenaran ada di hadapan mata.

IPNU-IPPNU Sukmajaya Gelar Upgrading 1.0, Perkuat Manajemen Konflik dan Tata Kelola Organisasi


(Syahruddin E/sajada.id)

Bocah 8 Tahun Raih Hadiah Umrah Peringatan Satu Abad NU, Fadlan: Ini Untuk Ibu

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *