
Wamenag Berikan Orasi Ilmiah di Wisuda XV STID Mohammad Natsir
sajada.id/–STID Mohammad Natsir kembali menggelar wisuda yang ke-15 pada Sabtu ((19/7) di gedung Pusdiklat Dewan Dakwah Tambun, Bekasi. Sebanyak 189 mahasiswa dinyatakan lulus dan nantinya siap untuk ditempatkan di berbagai titik 3T. Tema yang diangkat tahun ini "Membangun Dakwah untuk Mewujudkan Masyarakat Adil dan Makmur."
Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Pusat, Ust. Dr. H. Adian Husaini, M.Si., Ph.D dalam sambutannya menyinggung bagaimana kiprah Mohammad Natsir dalam kancah nasional. Natsir bukan saja seorang ulama, melainkan juga tokoh politik serta negarawan.
“Pak Natsir lah yang membujuk Syafrudin Prawiranegara untuk mengembalikan mandatnya ke Presiden Sukarno sehingga Indonesia selamat dari perpecahan. Natsir juga bukan saja sebagai negarawan, tapi guru yang luar biasa. Kontribusi Pak Natsir bagi bangsa tidak perlu dipertanyaakan lagi.,” jelasnya dengan penuh antusias.
Hadir pula Wakil Menteri Agama, Dr. KH. Romo R. Muhammad Syafi'i, S.H., M.Hum yang menyampaikan orasi ilmiah. Beliau menyampaikan beberapa poin penting terkait kondisi bangsa saat ini dan ini membutuhkan keterlibatan aktif para dai khususnya alumni STID Mohammad Natsir.
Pertama, beliau menyampaikan bahwa pembangunan material tidak akan dapat dilakukan tanpa adanya spiritual yang bagus. Spiritual ini bisa dibangun dengan keadaan, kedisiplinan, dan kepatuhan.
Kedua, mengingatkan tentang bahaya yang mengancam negara hari ini berasal dari tiga aspek: teritorial, etnis, dan agama. Dari tiga poin ini, agama menjadi ancaman terberat. Isu-isu agama hari ini menjadi isu paling sensitif dan paling mudah digoreng oleh pihak-pihak yang menginginkan Islam tersudutkan dan negara ada dalam ketidakstabilan.

Guna menyikapi hal tersebut, Wamenag juga mengingatkan pada sosok Moh. Hatta, bagaimana Hatta yang dikenal sebagai sosok nasionalis ternyata dalam mendiskusikan kesejahteraan, keadilan, kemerdekaan, dan isu-isu nasional selalu mengembalikan kepada ayat Al Qur'an tanpa harus selalu menunjukkan label Islam sebagai tagline-nya.
Sikap seperti Hatta tersebut, kata dia, diperlukan hari ini sebagai bentuk counter terhadap pihak yang berusaha memecah belah bangsa dan umat Islam (devide et impera). Taktik ini ternyata masih tumbuh subur sampai hari ini dengan dukungan bukan mereka yang berkulit putih tapi justru mereka yang berkulit hitam.
Di kondisi inilah, Wamenag berharap peran alumni STID Mohammad Nastir kedepannya bisa menjadi bagian yang bisa ikut mewujudkan ‘Indonesia Emas’ bukan ‘Indonesia Cemas’. Alumni STID Mohamamd Natsir dengan peran ke-dai-annya adalah kelompok yang spesial.
Kualifikasi dai adalah sangat spesial karena tidak semuanya mampu memenuhkannya, tapi sekelompok saja, dan inilah yang akan dimuliakan Allah sebagaimana ayat berikut,
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
“Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.111) Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Maidah: 104).
Ketua Bidang Kerjasama dan Kelembagaan pada Kopertais Wilayah II Jawa Barat, Dr. H. Dadan Suherdiana, M.Ag. yang juga hadir ikut mengingatkan dengan tiga kewajiban utama manusia yaitu mengajak (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah, sebagaimana firman Allah,
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ
Mengorelasikan Natsir dengan pendidikan, beliau menyebutkan, “Pendidikan Natsir terpadu, tidak ada dikhotomi sehingga ilmu agama dan bukan agama sehingga inklusif; berbasis tauhid, yaitu mendidik dan membina agar memiliki akhlak yg baik; pendidikan secara umum dapat bermanfaat bagi nusa dan bangsa, atau wawasan kebangsaan.
”Sejalan dengan pernyataan KH. Romo R. Muhammad Syafi'i, Dr. Dadan meminta kepada alumni agar kedepannya menjadi sebaik-baik manusia yang bisa memberikan manfaat tidak saja bagi dirinya, melainkan bagi keluarga, umat, juga bangsa.
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain." (HR Ath-Thabari)
Oleh karenanya, wisuda ini bukan pendeklarasian telah selesainya tugas mahasiswa, justru sebaliknya, pasca wisuda adalah titik awal mahasiswa yang akan menjadi alumni memulai perannya sebagai kader dai ilallah. Mereka harus menunjukkan jati dirinya sebagai alumni STID Mohammad Natsir, bukan sekadar jati diri keislamannya ,melainkan dalam bentuk kontribusi nyata di masyarakat. Wallahu a’lam bish shawab.
(Ummu Ahya Gyantie/Staf Pengajar STID Mohammad Natsir Kampus Putri)





