SAJADA.ID–Abu Nawas dikenal sebagai tokoh humoris. Ia sangat lucu, dan kadang menggemaskan. Tak ada dia, suasana tak akan ceria.
Namun demikian, ia juga dikenal sebagai tokoh sufi yang luar biasa. Sikapnya yang agak ‘konyol’ terkadang berlawanan dengan kepintarannya dalam menghamba kepada Allah.
Abu Nawas bernama asli Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami. Ia lahir pada 145 H (747 M) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran).
Ayah Abu Nawas adalah orang asli keturunan Arab, sedangkan ibunya adalah orang Persia. Ayahnya, Hani Al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol.
Diketahui, sejak kecil Abu Nawas telah menjadi yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.
Masa mudanya penuh yang kontroversi yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai spiritual, disamping cita rasa kemanusiaan dan keadilan.
Salah satu karya Abu Nawas yang terkenal adalah Ilahilastulil Firdaus atau yang dikenal dengan Al I’tiraf, yang artinya pengakuan.
Ia punya sejumlah murid yang biasa menemaninya dalam berdakwah. Dengan gaya khasnya, materi dakwah yang berat menjadi ringan dan mudah dicerna.
Suatu ketika, seorang muridnya bertanya pada Abu Nawas. Pertanyaan yang agak berat dan nyeleneh, justru dijawabnya dengan santai.
“Wahai guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan?”
“Mungkin,” jawab Abu Nawas.
“Bagaimana caranya?” tanya murid Abu Nawas ingin tahu.
“Dengan merayu-Nya melalui pujian dan doa,” kata Abu Nawas
“Ajarkanlah doa itu padaku wahai guru.” pinta mu rid Abu Nawas
“Doa itu adalah: llahi lastu lil firdausi ahla, wala aqwa’alan naril jahiimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzanbil ‘azhimi.
Arti doa itu adalah: Wahai Tuhanku, aku ini tidak pantas menjadi penghuni surga, tetapi aku tidak akan kuat terhadap panasnya api neraka. Oleh sebab itu terimalah tobatku serta ampunilah dosa-dosaku. Karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar.
Syair Al I’tiraf ini cukup panjang. Berikut liriknya:
إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ
Ilaahii lastu lil firdausi ahlaa wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi
Wahai Tuhanku, aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim.
فَهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِي – فَإنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ
Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi
Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar.
ذُنُوْبِي مِثْلُ أَعْدَادٍ الرِّمَالِ – فَهَبْ لِي تَوْبَةً يَاذَاالْجَلاَلِ
Dzunuubii mitslu a’daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali
Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan.
وَعُمْرِي نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ – وَذَنْبِي زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِي
Wa ‘umrii naaqishun fii kulli yaumi wa dzambii zaa-idun kaifah timaali
Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya.
َإِلٰـهِي عَبْدُكَ الْعَاصِي أَتَاكَ – مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاك
Ilaahii ‘abdukal ‘aashii ataaka muqirran bidzdzunuubi wa qad da’aaka
Wahai, Tuhanku, hambaMu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada-Mu.
َفَإِنْ تَغْفِرْ فَأنْتَ لِذَاكَ أَهْلٌ – فَإنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاك
Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun wa in tathrud faman narjuu siwaaka
Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni,
Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?
Demikianlah syair lengkap Al-I’tiraf, gubahan dari Abu Nawas. Semoga bermanfaat.
(Syahruddin/sajada.id/)


