Oleh Syahruddin El Fikri
SAJADA.ID—Sahabat yang dirahmati Allah SWT.
Kita semua tentu berharap Allah SWT menyelamatkan diri kita ketika Hari Kiamat nanti terjadi. Sebab, pada hari itu, sebagaimana digambarkan dalam banyak hadits disebutkan bahwa panas matahari begitu terik dan menyengat. Bahkan, ada manusia yang merasakan matahari berada tepat di atas kepalanya, sehingga membuat keringatnya bercucuran begitu derasnya. Ada pula yang merasakan panas matahari menyinari tubuhnya hingga keringatnya sampai sebahu, seperut, sepaha, selutut, dan lainnya.
Hal itu semua menggambarkan betapa hanya perlindungan Allah SWT yang diharapkan. Berkenaan dengan ini, ada tujuh kelompok manusia yang akan diberikan perlindungan oleh Allah.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda;
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari).
Baca Juga: Lurusnya Iman Bergantung pada Lurusnya Hati
Pertama, Pemimpin yang adil.
Dalam hadits di atas disebutkan, golongan pertama yang akan mendapatkan perlindungan atau naungan dari Allah SWT di hari kiamat nanti adalah imam yang adil. Imam adalah pemimpin. Dan imam yang dimaksud dalam hadits di atas adalah pemimpin yang adil. Pemimpin yang melaksanakan amanah dengan baik, tidak mendahulukan kepentingan pribadi, kelompok atau golongannya. Ia akan mengutamakan kepentingan rakyatnya.
Pemimpin dalam maksud hadits ini secara umum adalah seorang yang mempunyai kekuasaan besar seperti raja, presiden atau yang mengurusi urusan kaum Muslimin. Dan adil, maksudnya adalah seorang pemimpin yang tunduk dan patuh dalam mengikuti perintah Allâh Azza wa Jalla dengan meletakkan sesuatu pada tempatnya, tanpa melanggar atau melampaui batas dan tidak menyia-nyiakannya.
Keadilan seorang pemimpin yaitu dengan menegakkan kalimat-kalimat Allah, melaksanakan amanah Allah, mendekatkan masyarakat yang dipimpinnya semakin dekat kepada Allah. Ia tidak melakukan pengkhianatan kepada amanah yang diembannya. Juga tidak berkhianat kepada orang yang telah memberikan amanah kepadanya.
Jika seorang imam, pemimpin, raja, atau presiden, menteri, tidak berlaku adil, maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya memerintahkan umat untuk bersabar. Fenomena yang kita lihat, jika ada seorang imam, penguasa atau pemimpin yang melakukan kesalahan, maka banyak orang yang berusaha untuk menjatuhkannya, mencoba meng-impeach-nya, dan setelah imam atau pemimpin jatuh, mereka berlomba untuk memperebutkannya dengan menggantinya.
Islam tidak melarang seseorang menjadi pemimpin. Sebab, pada hakikatnya, semua orang adalah pemimpin. “Kalian semua adalah pemimpin dan akan ditanyakan tentang kepemimpinannya.” (Kullukum ra`in wa kullukum mas`ulun ‘an ra`iyatihi).
Kedua, Pemuda Taat Beribadah
Kelompok kedua adalah pemuda yang taat beribadah kepada Allah SWT. Ia senantiasa mengabdikan dirinya kepada Allah, menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua yang dilarang-Nya. Sebagai pemuda, ia tak malu untuk mendekatkan diri kepada Allah, pergi ke masjid, membaca Al-Quran.
Orang tua taat beribadah kepada Allah, tentu sudah sewajarnya. Karena usianya sudah lanjut dan harus memperbanyak zikir kepada Allah. Tetapi anak muda yang taat kepada Allah, akan membuat Tuhan Yang Maha Kuasa ini akan kagum dan bangga terhadapnya, bahkan Allah mencintainya.
Dalam sebuah riwayatkan dikisahkan; Allah SWT berkata:“Aku bangga dan senang dengan orang tua yang taat beribadah, tetapi aku lebih bangga dan senang dengan anak muda yang taat. Aku membenci pemuda yang bermaksiat, tetapi Aku lebih benci kepada orang tua yang suka bermaksiat.”
Baca Juga: Kisah Ulama yang Doanya Tertolak karena Sebutir Kurma
Ketiga, Hati yang Terikat dengan Masjid
Setiap muslim dianjurkan untuk shalat berjamaah di masjid. Sebab, masjid adalah rumah Allah (baitullah) di bumi. Seseorang yang senantiasa rajin beribadah di masjid, mengurusi masjid, dan senantiasa aktif dalam kegiatan masjid, akan memiliki kesempatan menjadi orang-orang yag mendapat perlindungan Allah di Hari Kiamat nanti.
Ketika jauh dari masjid, hatinya gersang. Karenanya ia selalu berusaha dekat dengan masjid, bahkan selalu ingin memiliki rumah atau tempat tinggal di dekat masjid agar mudah beribadah kepada Allah. Beruntunglah mereka yang memiliki rumah dekat masjid sehingga sellau banyak kesempatan untuk berjamaah di masjid.
Saat di masjid, dirinya senantiasa memperbanyak zikir, membaca Al-Quran, memperbanyak shalawat atas Nabi Muhammad SAW, dan selalu berusaha mengabdikan dirinya untuk masjid. Dia tidak betah bila jauh dari masjid.
Baca Juga: Pahala Berlipat Ganda untuk Orang yang Membersihkan Kotoran di Masjid
Dalam sebuah hadits dikatakan: “Seorang mukmin di masjid, laksana ikan di dalam air. Sementara bagi orang munafik saat berada di masjid, ia bagaikan burung dalam sangkar.”
Pernyataan di atas menggambarkan bahwa orang beriman itu senang dengan masjid. Dan betah berlama-lama di masjid. Seperti ikan di dalam air, ia nyaman dan tenang. Tetapi ikan tidak berada di air, maka ia akan mudah mati. Begitu juga dengan orang munafik, mereka tidak akan betah di masjid. Ia merasa jenuh dan pengen segera meninggalkan masjid. Baginya, masjid seperti tempat pengekangan. Karena itulah, kelompok orang munafik bila berada di masjid, mereka seperti burung dalam sangkar. Tidak bisa ke mana-mana, tidak betah dibandingkan ketika burung berada di alam liar.
Keempat, Orang yang Bersahabat karena Allah
Kelompok berikutnya yang mendapatkan lindungan Allah di hari kiamat nanti adalah dua orang sahabat yang saling mencintai dan menyayangi karena Allah. Dan saat berpisah pun juga karena Allah.
Mereka seperti saudara. Dan muslim itu bersaudara antara yang satu dengan lainnya. Mereka enggan berpisah. Mereka dipersatukan oleh keimanan mereka dan kecintaan keduanya kepada Allah.
Kelima, Pemuda yang Menolak untuk Berzina
Kelompok kelima yang dilindungi Allah adalah pemuda yang ketika diajak berzina oleh seorang wanita, ia menolak karena takut kepada Allah. Ia tidak takut kepada polisi atau petugas keamanan, tetapi lebih takut kepada Allah. Ia merasa dirinya selalu diawasi oleh Allah.
Sering dikisahkan sosok pemuda yang taat kepada Allah ketika diajak berzina. Seperti kisah Juraij.
Laki-laki yang demikian ini, walaupun wanita yang mengajaknya berkencan dan berzina itu punya kedudukan dan kecantikan, namun ia menyatakan dirinya takut bermaksiat karena Allah.
Keenam, Orang yang Berderma tetapi Selalu Disembunyikannya
Kelompok keenam yang akan mendapatkan naungan Allah di Hari Kiamat nanti adalah oang yang ahli sedekah. Dalam bersedekah ia senantiasa menyembunyikannya dari pengetahuan manusia. Seolah-olah tangan kanannya memberi, tetapi tangan kirinya tak mengetahui.
Orang seperti ini tak mau pujian, bahkan saat dipuji pun ia tak silau, apalagi membusungkan dada. Ia justru tidak nyaman ketika sedekahnya diketahui orang lain.
Kondisi saat ini tentu jauh berkebalikan. Banyak orang yang bersedekah atau menyumbang dan meminta namanya disebut. Jika tidak disebut, ia mengancam tak akan lagi memberikan sumbangan. Kayak kisah calon anggota legislatif, memberikan sumbangan agar dipilih, namun saat tak terpilih, sumbangan diambil kembali.
Ketujuh, Orang yang Senantiasa Ingat Allah
Kelompok ketujuh ini tak mau menonjolkan diri dalam beribadah. Hanya berusaha menyembunyikan dirinya beribadah dari pengetahuan orang lain. Bahkan di saat malam, ia mendirikan shalat malam atau beribadah kepada Allah dengan berzikir, dan itu membuatnya menangis hingga air matanya membasahi kedua pipi bahkan pakaiannya, karena takutnya kepada Allah.
Demikianlah tujuh golongan yang mendapatkan naungan atau perlindungan Allah di Hari Kiamat nanti. (sajada.id/)


