Agama
Beranda » Berita » Ada Apa Saja di Bulan Sya’ban

Ada Apa Saja di Bulan Sya’ban

Ilustrasi

Oleh Syahruddin El Fikri

sajada.id–Sahabat yang dirahmati Allah SWT.

Bulan Sya’ban adalah salah satu bulan yang istimewa. Keistimewaan Sya’ban itu salah satunya adalah Rasulullah SAW mengkhususkan waktu itu untuk banyak berpuasa dibandingkan bulan-bulan lainnya, di luar Ramadhan. Hal ini telah ditegaskan Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu Anha;

Tangani Aduan Jemaah, Kementerian Haji dan Umrah Kedepankan Mediasi dan Musyawarah

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau puasa lebih banyak dalam sebulan dibandingkan dengan puasanya pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena hal ini pula, banyak ulama yang menganjurkan bagi umat Islam untuk banyak melakukan amal ibadah di sepanjang bulan Sya’ban. Bahkan, Sayid Alawi Al Maliki Al Hasani, dalam kitabnya Maa dzaa fi Sya’baan, secara khusus membahas masalah bulan Sya’ban.

Sayid Alawi Al Maliki menyebutkan, banyak peristiwa yang terjadi pada bulan Sya’ban. Karena itu, beliau menyarankan agar umat Islam untuk menyemarakkan dan memerhatikan Sya’ban, dengan berbagai kegiatan. Antara lain; acara-acara seremonial, peringatan, seminar dan pertemuan-pertemuan religi lainnya.

Sejumlah peristiwa yang terjadi pada bulan Sya’ban tersebut, kata Sayid Alawi Al Maliki antara lain;

Ramadan 2026, BAZNAS RI Gaungkan Tagline “Zakat Menguatkan Indonesia”

Perpindahan Kiblat

Pada bulan Sya’ban terjadi perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah. Sebenarnya Rasulullah SAW sendiri sudah menunggu dan mendambakan hal tersebut. Setiap hari beliau selalu bangun dan memandang ke atas mengharapkan datangnya wahyu dari Allah SWT. Sampai sebelum akhirnya Allah telah memberikan apa yang membuat beliau menjadi tenang dan bahagia, Allah menurunkan sebuah ayat:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى ٱلسَّمَآءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَىٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ ۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya kami sering melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. al-Baqarah: 144).

BKM Nururrahman Gelar Peringatan Malam Nisfu Sya’ban

Hal itu sesuai dengan firman Allah SWT:

وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰىۗ ٥

“Dan kelak Tuhanmu pasti akan memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” (QS. ad-Dhuhaa: 5).

Sehingga apa yang dikomentarkan oleh sayyidah “Aisyah telah menjadi sebuah kenyataan, yaitu:

Aku tidak melihat Tuhanmu kecuali Ia selalu segera mengabulkan apa yang engkau inginkan.” (HR. al-Bukhari)

Sekjen Kemenag: Tata Kelola dan Kesejahteraan Guru Agama Jadi Prioritas

Kendati demikian, Rasulullah SAW selalu tetap berupaya melakukan sesuatu yang menjadikan Allah rela kepadanya.

Sementara itu, Syekh Abu Hatim al-Busty berkata: “Orang Islam shalat menghadap ke Baitul Maqdis selama 17 bulan dan 3 hari. Demikian itu karena Rasulullah SAW tiba di Madinah pada hari Senin tanggal 12 Robi’ul Awal. Lalu Allah memerintahkan beliau menghadap Ka’bah pada hari Selasa pertengahan bulan Sya’ban.”

Pelaporan Amal

Gas Pol! Lazisnu Depok Tancap Gas, Rintisan UPZIS MWCNU Cipayung Mulai Magang Fundraising

Di antara keistimewaan bulan Sya’ban adalah bulan dilaporkannya amal perbuatan manusia. Pelaporan ini adalah pelaporan yang sifatnya lebih luas dari pada pelaporan-pelaporan yang lain. Hal ini berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid:

“Aku mengatakan: “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa di suatu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban.” Lalu beliau bersabda: “Bulan itu banyak dilupakan oleh manusia. Ia adalah suatu bulan di antara bulan Rajab dan Ramadhan. la adalah suatu bulan yang mana pada saat itu amal perbuatan manusia dilaporkan kepada Allah Tuhan semesta alam. Dan aku ingin ketika amal perbuatanku dilaporkan, aku dalam keadaan sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i). Sayid Alawi Al Maliki mengatakan; hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya.

Pelaporan amal perbuatan manusia itu tidak hanya terjadi di bulan Sya’ban saja, melainkan berdasarkan beberapa hadits, ada beberapa kali pelaporan amal pada waktu yang berbeda-beda. Dan hal itu tidak menjadikan saling menafikan, karena setiap laporan mempunyai pengertian dan tinjauan hukum tersendiri yang berkaitan dengan masing-masing pelaporan.

JATMAN Depok Gelar Istighotsah Sambut Satu Abad Masehi NU

Imam Mundziri berkata: Arti pelaporan amal perbuatan manusia yang terkandung dalam hadits di atas adalah: dilaporkannya amal perbuatan siang hari di permulaan malam yang tiba setelahnya. Dan dilaporkannya amal perbuatan malam hari pada permulaan siang hari yang jatuh setelahnya. Karena sesungguhnya para malaikat yang tugasnya berjaga akan naik di saat permulaan siang hari dengan membawa laporan amal perbuatan malam hari ketika telah berakhir, begitu pula mereka akan naik di waktu permulaan malam hari dengan membawa laporan amal perbuatan siang hari.

Demikian itu Imam Mundziri bertendensi pada sebuah hadits yang yang termaktub dalam kitab Shahihain (Shahih Bukhari-Muslim) dari riwayat Abu Hurairah RA.

“Rasulullah SAW bersabda: telah bergantian para malaikat (pencatat amal perbuatan) di malam hari dengan malaikat pencatat amal perbuatan di siang hari. Mereka akan berkumpul di saat shalat subuh dan shalat Ashar, maka para malaikat yang semalaman dengan kalian akan naik. Lalu Allah (Tuhan mereka) bertanya, dan Ia adalah Maha Mengetahui, “Bagaimana keadaan hambahamba-Ku di saat sedang engkau tinggalkan dan di saat engkau sedang datang kepadanya? Para malaikat itu pun menjawab: Aku tinggalkan mereka sedang dalam keadaan melakukan shalat dan di Saat aku datang pun mereka juga sedang dalam keadaan shalat.”

Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Saib RA, bahwasanya Rasulullah SAW senantiasa melakukan shalat empat rakaat setelah tergelincirnya matahari, demikian itu sebelum diwajibkannya shalat Zhuhur. Lalu beliau bersabda: “Di saat (seperti itu) pintu-pintu langit dibuka, maka aku senang Jika di saat itu ada amalku yang naik.” Disarikan dari hadits di atas adanya keutamaan shalat sunah qabliyah Zhuhur.

“Diceritakan dari Abu Ayub al-Anshori dari nabi SAW, beliau bersabda: shalat qabliyah Zhuhur empat rakaat tanpa adanya salam itu menjadikan pintu-pintu langit terbuka.”

Imam Thabrani juga meriwayatkan dari Abu Ayub, ia berkata: “Ketika Rasulullah SAW bertempat tinggal (di rumahku), saat beliau hijrah ke Madinah, aku melihat beliau selalu melakukan shalat empat rakaat setelah melakukan shalat Zhuhur, dan beliau bersabda: sesungghnya jika matahari tergelincir maka pintu-pintu langit dibuka dan pintu itu tidaklah ditutup kembali kecuali jika Shalat Zhuhur sudah dilakukan. Aku senang jika pada saat itu aku melakukan amal kebajikan yang kemudian dilaporkan.”

Abdullah berkata: hendaknya seorang muslim senantiasa gemar melakukan shalat sunah qabliyah Zhuhur di saat waktu zawal dan memperbanyak doa. Karena saat-saat seperti itu adalah saat dikabulkannya doa, sebab pada saat itu pintu-pintu langit dibuka.

Penentuan Umur

Di dalam bulan Sya’ban terdapat penentuan umur, artinya pada bulan itu ditampakkan penentuan itu kepada Malaikat. Karena apapun yang dilakukan Allah tidak dibatasi dan tidak terikat oleh waktu dan tempat.

فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّمِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًاۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia (Allah), dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura; 11).

Telah diriwayatkan sebuah hadits dari Sayyidah Aisyah RA beliau berkata: “Sesungguhnya dahulu Rasulullah SAW berpuasa di bulan Sya’ban sebulan penuh. Aisyah berkata: Lalu aku bertanya: Wahai Rasulullah, Apakah bulan yang lebih engkau sukai berpuasa itu bulan Sya’ban? Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah telah menulis (mentakdirkan) setiap jiwa yang akan mati pada tahun itu. Maka aku berharap di saat ajalku datang, aku sedang dalam keadaan berpuasa.” (HR. Abu Ya’la, Hadits tersebut termasuk kategori Hadits Ghorib namun Sanadnya Hasan).

Oleh karena itu, dahulu Rasulullah memperbanyak berpuasa di bulan Sya’ban. Anas bin Malik RA bertutur kata:

“Bahwa Rasulullah SAW selalu berpuasa seolah-olah tidak pernah berbuka (tidak berpuasa), sehingga kita mengatakan: Tidak ada pada diri Rasulullah SAW berbuka (tidak berpuasa) selama setahun. Kemudian Rasulullah berbuka dan tidak melakukan puasa, sehingga kita berkata: Tidak ada pada diri Rasulullah SAW melakukan puasa sepanjang tahun. Puasa sunah yang paling disenangi Rasulullah adalah puasa bulan Sya’ban.” (HR. Ahmad dan Thabrani)

Diceritakan dari Sayyidah “Aisyah RA, ia berkata:

Rasulullah SAW tidak pernah melakukan puasa di suatu bulan yang melebihi puasa di bulan Sya ‘ban.” (HR. al-Bukhari)

Perintah Memperbanyak Shalawat Nabi

Pada bulan Sya’ban, umat Islam dianjurkan memperbanyak shalawat atas Nabi Muhammad SAW. Menurut Sayid Alawi Al Maliki, penisbatan Sya’ban sebagai bulan Nabi Muhammad SAW dikarenakan pada bulan Sya’ban diturunkannya ayat yang memerintahkan bershalawat kepada Nabi SAW.

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzab ayat 56).

Imam al-‘Ijluni dalam kitab Kasyful Khofa mengomentari sabda Rasulullah SAW:

“Sya’ban adalah bulanku, sedangkan Ramadhan adalah bulan Allah, Bulan Sya’ban itu mensucikan, sedangkan bulan Ramadhan itu melebur (dosa).”

Bahwa hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Dailami bersumber dari Sayidah Aisyah RA diriwayatkan secara marfu’. Ibnu Ghors berkata: Guru kami al-Hijazi mengatakan bahwa hadits di atas adalah dhoif. Sabda Rasulullah SAW (Sya’ban adalah bulanku) artinya aku yang mengajarkan perbuatan amal ibadah di dalamnya.

Demikianlah sahabat sajada.id/, mengenai beberapa peristiwa penting yang perlu menjadi perhatian umat Islam pada bulan Sya’ban. Wallahu A’lam. (sajada.id/)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *