Sahabat,
Hampir semua masyarakat Indonesia mengenal yang namanya nasi goreng, nasi uduk, nasi kebuli, atau apapun istilahnya, yang pasti masyarakat Indonesia makanan utamanya adalah nasi. Walaupun sebagian ada yang makanan pokoknya tepung, sagu, atau lainnya.
Nah, jangan kaget kalau suatu ketika ada sahabat kalian yang sama sekali tidak suka makan nasi. Aneh rasanya, tetapi itulah kenyataannya. Karena saya pribadi memiliki seorang sahabat yang tidak suka makan nasi. Jadi kalau dia mampir ke rumah, saya suguhkan nasi, dia paling hanya mengambil sayur sama lauknya saja.
Kembali ke soal nasi, karena hampir semua orang Indonesia makan nasi, maka pada artikel ini sengaja penulis ingin membahas masalah nasi. Sebenarnya sepele, tetapi sangat penting.
Ceritanya, ketika penulis berusia sekira 10-14 tahunan, ayah saya sering menegur saya dan saudara yang makan tidak habis. Apalagi kalau di piring masih banyak nasi, beliau akan sangat keras menegurnya. Ini saya alami pribadi.
Suatu ketika, saat makan, karena sering menemani beliau berdagang ke daerah pedalaman Kutai Kartanegara, seperti ke Melak hingga Long Iram. Wilayah ini dulu masuk Kabupaten Kutai Kartanegara. Namun setelah masa reformasi dan otonomi daerah, kedua wilayah itu masuk ke Kabupaten Kutai Barat (Kubar).
Saat ayah mengemudikan kapal kecil kami, saya dapat bagian memasak. Ya, hanya memasak nasi dan menggoreng ikan. Soal sayur, nanti ayah yang membuat. Jadi bergantian, ketika ayah membuat sayur, saya kebagian mengemudikan kapal. Saat waktunya makan tiba, kapal harus kami pinggirkan dan singgah sebentar di rakit penduduk, bila ada. Kalau tidak ada, ya kami ke pinggirkan saja kapalnya, kemudian bersandar seadanya, yang penting tidak ke tengah sungai Mahakam.
Saat kami makan itulah, ayah sering menasihati saya. “Amun makan, jangan basisa (jika makan, jangan disisakan),” demikian pesan beliau. “Walaupun hanya sabigi nasi (walaupun hanya sebutir nasi),” lanjut beliau.

Pesan singkat namun sangat menyentuh. Ayah kami orang yang tidak banyak bicara. Beliau sering memberi nasihat bukan dengan kata-kata, tetapi lebih banyak dengan contoh. Misalnya soal makan, saat makan pasti piring beliau bersih. Begitu juga soal pekerjaan, jika memakai sesuatu, beliau akan mengembalikan barang yang dipakai ke tempat semula. Tujuannya supaya orang lain yang akan menggunakan lagi, dengan mudah menemukannya.
Kembali ke soal nasi. Kenapa begitu pentingnya untuk menghabiskan makanan yang ada di piring? Salah satunya, supaya hidup selalu bersih, rapi, dan menyenangkan.
Pernah penulis mendengar cerita di masa silam. Nasi yang masih tersisa di piring, karena tidak dimakan, akan menangis, karena merasa tidak diperlukan. Padahal, ia sudah siap sedia, menyerahkan dirinya sepenuh hati, namun akhirnya tidak diperhatikan. Bahkan akhirnya dibuang karena tidak ada yang berminat. Apakah ada yang berminat memakan nasi sebutir dua butir yang tersisa di piring? Bisa dikatakan, hampir tidak ada satu orang pun. Makanya tidak heran, bila akhirnya nasi tersisa sebutir dua butir di piring itu akan terbuang, dan menjadi tak berharga.
Padahal, sebutir nasi tersisa yang terbuang itu, jika dikumpulkan akan mampu mencukupi jutaan orang. Kok bisa? Ya, bisa.
Mari kita berhitung. Anggaplah saat ini penduduk Indonesia berjumlah 275 juta orang, mulai dari bayi sampai orang yang sudah tidak bisa berjalan lagi. Kita masukkan semua kategori ini untuk memudahkan saja.
Jika satu orang yang makan, kemudian menyisakan satu butir nasi setiap kali makan, berarti satu kali makan ada 275 juta butir nasi. Jika dikalikan tiga kali makan, maka ada tersisa sebanyak 875 juta butir. Ini jumlah yang sangat banyak.
Berapa butir dalam satu kali makan untuk satu porsi? Ada satu penelitian yang simpel, tetapi bisa dijadikan rujukan. Dalam penelitian sederhana itu, untuk satu porsi nasi goreng, jumlahnya sebanyak 9.794 butir nasi. Anggaplah secara umum sebanyak 10 ribu butir untuk sekali makan, makan jumlah penduduk Indonesia saja yang menyisakan nasi setiap kali makan sebanyak 2750 porsi. Ini jumlah untuk satu kali makan. Jika dikalikan tiga kali dalam sehari, maka berarti ada 8750 porsi. Dalam sebulan (30 hari x 8750 porsi) setara dengan 262.500 porsi (orang). Dalam setahun setara dengan 3.150.000 orang (porsi).
Alangkah banyaknya nasi yang terbuang dalam setahun. Ini baru satu butir untuk satu porsi. Bagaimana kalau dua butir, atau 10 butir, atau bahkan masih menyisakan banyak nasi?
Itulah mengapa ayah saya sering memarahi saya jika makan masih menyisakan nasi, walau hanya sebutir. Ternyata, sebutir nasi yang tersisa itu begitu besar manfaatnya bagi orang lain. Sebutir nasi yang mungkin banyak kita sia-siakan, ia begitu banyak membawa manfaat bagi mereka yang kekurangan.
Terima kasih ayah, terima kasih ibu. kami rindu denganmu. Allahummaghfirlahum warhamhum wa afihim wa’fu anhum.
(Syahruddin El Fikri)



Komentar