SAJADA.ID—Berbuat baik adalah inti dari ajaran Islam. Setiap amal saleh, sekecil apa pun, memiliki nilai di sisi Allah SWT. Namun, para ulama mengingatkan bahwa kebaikan yang dilakukan manusia tidak pernah lepas dari kemungkinan kekurangan, baik dari segi niat, cara, maupun dampaknya.
Kesadaran inilah yang melahirkan satu sikap penting dalam kehidupan seorang Muslim: tetap beristighfar setelah melakukan kebaikan. Sebab, bisa jadi amal yang tampak baik di hadapan manusia, ternyata belum sempurna di sisi Allah SWT.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memberikan isyarat kuat bahwa manusia perlu memohon ampun bahkan setelah melakukan ibadah besar. Salah satunya terdapat dalam firman-Nya:
ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 199)
Ayat ini turun dalam konteks ibadah haji, sebuah ibadah agung yang sarat dengan amal saleh. Namun, justru setelahnya Allah memerintahkan untuk beristighfar. Ini menunjukkan bahwa sebesar apa pun amal yang dilakukan, tetap ada kemungkinan kekurangan yang perlu ditutup dengan istighfar.
Hal serupa juga tampak dalam kebiasaan Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim disebutkan:
“Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”
Padahal, Rasulullah ﷺ adalah manusia yang ma’shum (terjaga dari dosa). Namun beliau tetap memperbanyak istighfar sebagai bentuk kerendahan hati dan kesadaran akan kebesaran Allah SWT.
Mengapa Harus Beristighfar Setelah Berbuat Baik?
Ada beberapa alasan mengapa istighfar tetap diperlukan setelah melakukan amal kebaikan:
1. Mengakui ketidaksempurnaan amal
Tidak ada amal manusia yang benar-benar sempurna. Bisa jadi ada riya’, kurang ikhlas, atau tidak sesuai dengan tuntunan syariat.
2. Menjaga hati dari ujub (bangga diri)
Kebaikan yang tidak diiringi istighfar berpotensi menumbuhkan rasa bangga diri, merasa lebih baik dari orang lain, bahkan merusak pahala itu sendiri.
3. Menutup celah kesalahan yang tidak disadari
Sering kali manusia tidak menyadari kesalahan dalam amalnya, baik dari segi niat, ucapan, maupun dampak terhadap orang lain.
4. Mengikuti teladan Rasulullah ﷺ
Jika Rasulullah saja yang tanpa dosa masih beristighfar, maka manusia biasa tentu lebih membutuhkan istighfar.
Keutamaan Istighfar
Istighfar bukan sekadar permohonan ampun, tetapi juga memiliki banyak keutamaan besar, di antaranya:
1. Mendatangkan ampunan Allah
Allah berfirman:
وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Barang siapa berbuat kejahatan atau menzalimi dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110)
2. Membuka pintu rezeki dan keberkahan
Dalam kisah Nabi Nuh AS disebutkan:
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit, memperbanyak harta dan anak-anakmu…” (QS. Nuh: 10–12)
3. Menghilangkan kegelisahan dan kesempitan hidup
Dalam hadits disebutkan:
“Barang siapa memperbanyak istighfar, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesempitan dan kelapangan dari setiap kesedihan, serta memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud)
4. Mendekatkan diri kepada Allah SWT
Istighfar adalah bentuk pengakuan kelemahan diri dan ketergantungan penuh kepada Allah.
Menjadikan Istighfar sebagai Penutup Amal
Para ulama menganjurkan agar setiap amal kebaikan ditutup dengan istighfar. Bahkan dalam ibadah salat, yang merupakan ibadah paling utama, dianjurkan membaca istighfar setelah salam.
Ini menunjukkan bahwa istighfar bukan hanya untuk orang yang berbuat dosa, tetapi juga untuk orang yang berbuat baik agar amalnya diterima dan disempurnakan oleh Allah SWT.
Dengan demikian, beristighfar setelah berbuat baik adalah bentuk kesadaran spiritual yang tinggi. Ia menjaga hati tetap rendah, amal tetap bersih, dan hubungan dengan Allah tetap terjaga.
(Syahruddin El-Fikri/sajada.id)






Komentar